search

26 Mei 2017

My Marriage Journey

On March 19th, I tried to be brave to marry with a man who I didn't know more before. For more less 4 months, I tried to follow the scream of my heart in choosing him. Finally, I chose him to stand in my side to declare the vow. 

Nobody knows, I was on very difficult choice before finally choose him. I felt in love to a man whom I know for almost 5 years. But, I didn't know about him, about his feeling. One night, I called him and I told him everything about my marriage plan with someone whom I chose. He kept cool, I didn't know may be he kept everything hidden from him to me. I cried, I tried to explain to him about my feeling to him during our friendship running. Everything was so late, I was engaged and it could be cancelled and I didn't regret of that. 

I know that life is full of choices and you should choose, so that love, and I should choose also. 
I know that I don't know the man who wants to marry me is better or badder than him. Is he the best or the worst or my choice. I don't care, in that time I just believe the one and only reason I choose to marry soon is that, that's the right way to make me far and far from zinah. Well the things that I really afraid is that, because nobody can give guarantee to keep someone from zinah.

Am I happy with my marriage? I will share here because I know that nobody knows this blog, but some days, when I am not in this world anymore, I just want people know that I have written something to be something to people to learn. 

14 Mei 2015

Bangunlah dan Bergerak atau Tidurlah dan Terinjak

Malam, Jumat (14 Mei 2015), pukul 10.01; 

Selama hampir 3 tahun menjadi mahasiswa, baru malam ini rasa gelisah itu benar - benar memuncak. Di hari yang masih dini, kaki ini melangkah dengan santai untuk menuju salah satu tempat makan di Solo. Bertemu dua orang luar biasa yang berperan dalam memberikan pesan positif pada para pemuda pejuang Indonesia yang menyatu di suatu kabinet bernama poros aksi mahasiswa . Satu, dua, tiga, hingga jutaan kata terangkai menjadi satu mengerucutkan suatu tujuan dan harapan bersama. Bukan obrolan berat memang, kalau boleh saya simpulkan yang kami bicarakan hanyalah tentang satu hal; bagaimana agar mereka menjadi leader bukan follower. Sudah... Cukup di pagi yang cerah itu.

Lalu kaki ini kembali melangkah dengan pasti untuk menuju rumah tercinta. Tempat dimana saya dilahirkan dan berproses menjadi pribadi saya yang sekarang. Saya selalu bangga dengan tempat dimana belum banyak pemuda yang tergerak hatinya untuk memikirkan Indonesia. Jangankan Indonesia, memikirkan orang lain disekitarnya saja belum. Dari sini saya tidak pernah menyalahkan mereka, saya hanya mencoba instrospeksi ketika pemuda yang memiliki kesempatan untuk mendapat pendidikan dari mereka tidak memberi pencerdasan, maka apa gunanya. Ketika saya sampaikan pemuda dalam tulisan ini, maka yang saya maksud pula adalah pemudi; putera puteri Indonesia.

Tak lama setelah raga ini merasakan segarnya udara pedesaan, seorang ibu paruh baya datang ke rumah. Dia menceritakan tentang pemuda yang sudah tidak bisa diandalkan lagi. Pemuda yang bisanya hanya kumpul dan merokok. Pemuda yang sekarang lebih suka memikirkan ayam jago daripada memikirkan masa depannya. Yaaa.... Ada virus baru yang menjangkit pemuda - pemuda di daerah saya, penyakit masyarakat yang sebenarnya sudah sempat sembuh dalam beberapa aktu terakhir, ternyata sekarang sudah kambuh lagi, dan saya baru mengetahuinya, Dia melanjutkan keluhannya pada saya, bait demi bait kalimat yang terucap dari mulutnya menunjukkan bahwa dia mengharapkan sesuatu setelah menceritakan keluhannya pada saya. Namun ternyata dia salah, saya hanya diam saja mencerna kata demi kata, mencerna dengan pelan sambil melongo membayangkan apa yang akan terjadi jika virus itu benar - benar menjadi penyakit yang membusuk dalam kepribadian mereka. Cukup untuk cerita dari ibu - ibu yang sedang galau tadi.

Malam hari, melihat banyak sekali kicauan indah dari WA tentang;
1. BBM akan kembali naik pada 15 Mei.
2.Kajian tentang intervensi politik Jokowi - JK oleh kementrian kajian strategis.
3.Seruan turun memperjuangkan kesejahteraan rakyat. 
Dari tiga hal tersebut yang paling menarik perhatian saya adalah poin satu. Saya baru ingat bahwa pagi tadi tarif bis Solo - Wonogiri sudah naik. Harga solar 'dikabarkan' naik namun faktanya di lapangan mereka sudah menaikkan tarif. Entah saya yang unlucky dengan naik bis yang memang mahal atau memang suatu kesengajaan yang dibuat - buat, namun kabar tersebut mau tidak mau sudah menggundahkan rakyat. 

Kemudian sejak detik itu pula saya benar - benar merasa gelisah melihat apa yang terjadi dengan tanah air ini. Tiba - tiba saya rindu dengan beberapa lagu, lalu pecahlah keheningan malam dengan lagu Indonesia Menangis, Indonesia Pusaka, Bagimu Negeri hingga Syukur. Tak ada maksud untuk menaikkan emosi agar saya semakin gelisah. Saya hanya benar - benar rindu lagu - lagu yang diciptakan sebagai penyemangat dan pengingat peristiwa  ini - peristiwa dimana para pahlawan berjuang demi tumpah darah Indonesia. Walaupun akhirnya saya memang semakin gelisah. Adakah terbesit dalam benak para pemuda untuk memikirkan Indonesia, sebagaimana pemuda - pemuda di zaman pergerakan dulu begitu giat memikirkan kesejahteraan rakyatnya. Berjuang dengan mempertaruhkan jiwa dan raganya. Berjuang dengan pikiran, waktu dan harta mereka. Berjuang dengan sepenuh hati untuk satu tujuan yang mulia, tujuan yang muaranya bukan hanya untuk satu orang saja, tetapi untuk banyak orang. Dalam kegelisahan itu pula saya hanya bisa berdoa. Begitu lemah memang, tapi baru itu yang bisa saya lakukan untuk mereka; rakyat yang kebingungan. Belum ada nyali yang utuh dalam jiwa saya untuk 'turun' dalam memperjuangkan raga - raga yang secara tidak langsung juga berjuang untuk kelangsungan hidup saya, dan kehidupan banyak orang. Hanya bisa berdiri, melihat apa yang terjadi, mendengar apa yang dilakukan, merasakan bagaimana 'kuat' nya azam mereka dalam berjuang dan terus berjuang, kemudian menghaturkan doa pada Ilahi untuk kemenangan rakyat Indonesia; rakyat yang sebenar - benarnya rakyat Indonesia. 


Rakyat Indonesia  ......
Maaf karena kaki ini belum bisa ikut merasakan getirnya aspal jalanan sambil terus menyuarakan keadilan, menyuarakan hak kalian, menyuarakan kebenaran kalian.....

Rakyat Indonesia ......
Janganlah bersedih..... ...... karena sebenarnya masih banyak pemuda yang selalu memikirkan keadaanmu dan memperjuangkan nasibmu, walau tidak bisa diingkari masih lebih banyak pemuda yang asyik dengan urusan mereka sendiri, menjelajahi alam kebahagiaan fana tanpa mau mengambil risiko. 

Pemuda  Pemudi Indonesia ..... 
Mari bangun, membuka mata, mencuci muka kita dengan peristiwa - peristiwa yang terjadi di Indonesia ini.
Mari peka dengan banyaknya rakyat Indonesia yang mengharapkan kita bergerak.. Bergerak untu menciptakan perubahan lebih baik pada generasi selanjutnya, bukan bergerak untuk menggerogoti keluhuran nilai bangsamu ini .......
Mari melangkah..... Mari Berjalan ..... Mari Berlari ....... jangan terus menerus tidur, terlelap dalam mimpi fatamorgana yang tak mampu menalar keadaan, kemudian TERINJAK - INJAK dan mati benar - benar tanpa meninggalkan suatu nama atau cerita baik di tanah tempatmu berpijak.
Mari lebih dekat dekat dekat dekat dengan rakyat yang tak pernah lelah memikul beban, menjadi korban keluputan pemimpin - pemimpinnya.


~~ Spend your time to something wise, not only think about how you feel the pain about love or something like that. Wake up the youth, because that is only a little little little bit problems if you see this world, only a top of your nail finger of your body. Indonesian have more complex problems and need you to involved~~


*Ad.51415*


26 April 2015

We Exist to Inspire the Youth of Indonesian



Saturday, April 25, 2015

 

Grand Opening Greeting, Gathering and Sharing (GGS) dan Rapat Harian Lengkap (RHL) BEM UNS Kabinet Porsima Inisiatif Menginsipirasi

Sabtu, 25 April 2015, BEM UNS kementrian sekretaris kabinet melaksanakan pembukaan acara rutinan Greeting, Gathering, and Sharing (GGS) dan Rapat Harian Lengkap (RHL)1. GGS adalah acara yang dirilis khusus untuk internal pengurus BEM. Dari namaya sudah terlihat bahwa acara ini adalah acara yang akan menyatukan pengurus dalam satu waktu dengan tujuan berbagi ilmu pengetahuan. Nantinya, kurang lebih 180 pengurus dipetakan menjadi beberapa kelompok dimana ada seorang mentor dalam setiap kelompoknya. Mentor tersebut yang kemudian akan menyampaikan materi singkat berdasarkan kurikulum yang telah dibuat, dan dilanjutkan dengan sesi sharing. Esensi dari acara ini adalah, pengurus mendapatkan input ilmu pengetahuan yang luas mengenai banyak hal, bukan hanya masalah yang dihadapi di organisasi tapi lebih dari itu. Mahasiswa yang sudah berani terjun ke organisasi, harapannya mampu memiliki pengetahuan yang tidak sempit dalam menyikapi suatu masalah. Disini, pengurus akan dihadapkan dengan pikiran – pikiran yang senada walaupun tidak sama, oleh karena itulah mereka akan berbagi masalah dan berbagi solusi. GGS akan dilaksanakan dua minggu sekali, dengan hari dan waktu yang kondisional berdasarkan kesepakatan kelompok.
Dalam GGS, divisi pengembangan organisasi bertugas untuk mengawasi keberjalanan masing – masing kelompok; dalam hal ini keaktifan setiap individu dalam kelompoknya menjadi sorotan penting. Pada dasarnya, kedatangan ataupun keaktifan pengurus dalam acara ini adalah hak mereka, karena acara ini disusun atas kebutuhan mereka, sebagai bagian dari suatu organisasi, sudah sepantasnya mereka keluar dengan suatu ilmu baru yang tidak didapatkan orang lain yang tidak berada dalam organisasi tersebut. Setelah launching, kumpul per kelompok dapat dimulai pada Mei 2015.
Setelah acara GGS selesai, dilanjutkan dengan RHL 1 yang langsung dipimpin oleh kadiv kesekretariatan, Fika Dwi Utami. Dia menjelaskan bahwa RHL akan dilaksanakan satu bulan sekali; selain untuk kembali mengingatkan pengurus tentang agenda apa yang akan dilaksanakan pada bulan tersebut, juga sebagai sarana evaluasi dini untuk acara selanjutnya yang lebih baik lagi. Walaupun banyak komentar tidak baik yang memojokkan BEM UNS, kami tidak akan pernah berhenti berusaha dan berkarya untuk Indonesia, mewujudkan generasi muda yang berwawasan luas, penuh tanggung jawab yang mampu memimpin bangsa dengan kearifan dan kerendahan hati.
HIDUP MAHASISWA!!!
“INDONESIA AKAN LEBIH BAIK JIKA PEMUDANYA MAU BELAJAR DAN BERKARYA, DAN INDONESIA AKAN TERPURUK JIKA PEMUDANYA GEMAR MENGHAKIMI TANPA BELAJAR, TANPA MENGHASILKAN KARYA”
Check the video out: https://www.youtube.com/watch?v=BSEaGy7rRf4

Sederhana Tanpa Syarat .. ..



Sederhana tetapi dengan tatapan yang tulus. Ketika seseorang menemukan satu titik yang dia tak bisa lepas dari tiitk itu, walau garis menghadang membelah pandangan matanya. Bukan tampan ataupun cantik. Bukan tinggi ataupun pendek. Putih atau hitam dan ……. lainnya.
Sederhana tetapi bisa diandalkan untuk selalu membersamai hati yang tak pernah menuntut. Hati yang tak pernah takut disakiti karena rasa percaya. Bahkan saat puluhan virus kesombongan menuntutnya untuk selalu meninggi.
Sederhana yang tak pernah berhenti menjadi dermawan. Untuk orang – orang yang tak kenal lelah mendoakan ataupun mencercanya; yang tak pernah lepas dari sifat memberi, karena sederhana bukanlah miskin. Sederhana bukanlah fakir, yang sering mengajukan diri untuk mendapatkan sesuatu tanpa daya upaya.
Manusia setiap hari disibukkan dengan ambisi:
1.      Beberapa pemimpin berambisi untuk bisa berkuasa penuh dengan yang dipimpinnya. Kadang mereka juga berambisi untuk menuntut kepercayaan orang yang dipimpinnya. Beberapa yang lain berambisi untuk mencari simpati dengan melakukan pencitraan public. Ada pula yang berambisi untuk selalu berada di posisi yang sama hingga akhir hayatnya.
2.   Beberapa insan biasa berambisi untuk menuntut pemimpinnya agar selalu menjadi sempurna, atau nyaris sempurna. Di beberapa kesempatan merekapun berambisi untuk mencuri perhatian pemimpinnya. Lalu sebagian kecil dari mereka berambisi untuk didengar oleh pemimpinnya yang terkadang sibuk sendiri. Insan biasa tidak cukup sampai disini. Pun tidak bijak rasanya jika kita menyebut satu per satu jabatan mereka dan kita ‘orek’ ambisi – ambisi mereka, yang sebagian mungkin datang untuk kepentingan duniawi.
“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat” (QS Asy Syuraa:20)
Kesederhanaan akan membawa seseorang berada jauh dari rasa was – was dan curiga; membawa setiap individu tidak dibutakan oleh ambisinya. Kesederhanaan pula yang akan membawa seseorang siap berada dalam kondisi apapun. Kederhanaan yang didukung oleh kekayaan jiwa terisi penuh dengan iman dan ketaatan pada sang Maha Pengasih. Kesederhanaan yang dilandasi dengan keyakinan akan ketentraman dalam hidup dan tiada kekhawatiran yang menyelimuti. Kesederhanaan yang dipenuhi dengan rasa cukup akan segala yang dimiliki dengan segala kepayahan usahanya. Kesederhanaan yang datang bukan karena kemalasan yang mengakibatkan seseorang miskin jiwa, harta ataupun jiwa dan harta. Tetapi kesederhanaan yang timbul dari kerendahan hati seseorang karena menyadari dia hanyalah satu dari milyaran manusia di bumi, yang terlihat setu per ratusan ribu lebih kecil dari keseluruhan galaksi yang ada di jagat raya ini.

"Manusia tenteram karena kesederhanaan lahir atas kekayaannya, keserhanaan hidup atas kejayaannya, dan kesederhanaan hati atas kelebihannya" (ad~15)

12 Oktober 2014

Jadi Indonesia yang dikenal Dunia

Pernah nggak kamu mengikuti suatu acara dimana banyak orang asing (turis luar negeri) yang datang? Sadar atau nggak, sebenarnya acar tersebut adalah peluang besra bagi kamu untuk mengenalkan Indonesia untuk dunia.  Mungkin kita bertanya - tanya, "Emang ngaruh? Emang mereka mau kowar - kowar tentang info yang kita kasih?" Yap ... Dan jawabannya, absolutely, ngaruh. Satu turis dari kamu, kalau acaranya melibatkan seratus orang turis maka ada seratus turis yang dapat informasi tentang Indonesia, dan dari seratus turis tadi memiliki keluarga masing - masing, nice kan? Oke okee .. Mungkin belum terbayang yaa, lets me make it clear. 
Kita nggak pernah tau kapan kesempatan itu datang. Kita nggak pernah tau kapan turis - turis asing itu datang ke Indonesia dan kita juga nggak pernah tau apa yang bakal mereka tanyakan ke kita. Sekarang gini, kalau suatu saat mereka datang ke kita buat PDKT tentang Indonesia, yakin nggak kita bakal tau apa yang mereka maksud? Yakin nggak kita bisa jawab pertanyaan - pertanyaan mereka dengan bahasa yang baik? NGGAK YAKIN!!! Itu jawabanku sekarang, kenapa? Karena itu kenyataan yang baru saja kualami. Beberapa waktu yang lalu ada agenda besar bernama TEFLIN (Teaching English as a Foreign Language Indonesia) di Lor-In hotel, Solo. Pesertanya mostly dari Indonesia memang, tapi kebanyakan dari mereka speaking English guys. Beberapa peserta juga datang dari luar bahkan pembicaranya juga beberapa dari luar. Aku nggak nyia - nyiain kesempatan untuk menjadi panitia di acara itu. Disini masalahku adalah kesiapan dalam berbahasa Inggris dengan baik. (Andai aja) waktu itu aku bisa menguasai bahasa Inggris dalam keadaan baik, pasti aku bisa mengenalkan Indonesia ke mereka. At least aku bakal bilang bahwa Solo ini adalah kota yang keren, banyak acara yang sering digelar, ada keraton, ada ini ada itu dan lain sebagainya. Aku anak bahasa Inggris, yap, bener banget. Aku bisa berbahasa Inggris, of course bisa. Tapi aku belum punya mental untuk bercakap - cakap dengan menggunakan bahasa Inggris. 
Intinya, bahasa Inggris itu penting dan sangat dibutuhkan. Belajar bahasa Inggris adalah salah satu bentuk cinta kita pada Indonesia. Kita bisa mengenalkan bahkan mempromosikan Indonesia di kancah luar negeri jika kita bisa berbahasa Inggris. Kita bisa tampil di kancah dunia dengan menggunakan bahasa Inggris. Bahasa Inggris juga akan mampu mempopulerkan Indonesia di kancah internasional. Dukung Indonesia untuk menjadi negara yang dikenal Internasioanal dengan belajar bahasa berbahasa Inggris. Kamu juga bisa mengkonfirmasi cercaan yang ditujukan pada bahasa Indonesia jika kamu bisa berbahasa Inggris .... 
Banggalah menjadi Indonesia yang dikenal Dunia ... .. .. :)

10 September 2014

Memupuk’ Bintang




Bintang adalah teman setia bulan yang setiap malam menghiasi hamparan langit di atas sana. Cahayanya memang tak secerah bulan, apalagi matahari, tapi indah kerlingannya tak bisa disembunyikan. Entah hanya sekecil titk berwarna keemasan atau mungkin segumpal zat yag bersinar sekecil apapun bentuknya, namun cahayanya tetap agung dari mata para penghuni bumi.
Pernahkah berpikir bahwa di bumi juga ada banyak bintang? Mungkin penduduk langit juga bisa melihat cahayanya dari sana, namun tak ada yang tau seberapa dahsyat gemerlap sinarnya. Bintang di dunia tak lepas dari langkah – langkah kecil para pejuang peradaban. Tangan – tangan mereka tak pernah berhenti mengepal, bukan karena marah atau geram melihat begitu kejamnya apa yang dilihat, tetapi begitu semangat membuka kedua mata mereka ke hamparan luas tanpa batas bernama dunia prestasi.
Bintang – bintang itu adalah anak – anak hebat yang terlahir dari tanah subur ini, tanah air tercinta, bernama Indonesia. Mereka tersebar luas, dari pelosok negeri hingga tengah – tengah kota. Dari tengah – tengah kota hingga pinggiran garis kekuasaan, dan salah satunya berada di kota kecil bernama Solo, dan lebih kecil lagi yaitu di sebuah kota di timur Solo, bernama Sanggrahan. Anak – anak yang masih wajar adanya tanpa beban dan pikiran, tapi sebenarnya dipundak mereka ada tanggung jawab yang mau tidak mau harus dipikul dengan rasa bangga dan optimis. Tanggung jawab itu adalah menjadi pemimpin Indonesia di era Indonesia bermartabat, suatu hari nanti.
Narasi yang cukup menarik untuk menggambarkan kehebatan anak – anak Indonesia di bumi pertiwi ini. Tidak ada cerita yang lebih menarik dari semangat seorang anak. Masa dimana hidup, mati, berkembang dan tidak berkembangnya sel otak ditentukan. Sadar atau tidak mereka akan cenderung lebih aktif di masa ini, dan itu normal. Seperti suasana yang terbangun dalam Sanggrahan Study Club di salah satu SD di Sanggrahan Surakarta sore ini, 10 September 2014. Siswa kelas 4, 5 dan 6 SD yang begitu semangat mengikuti les tambahan yang diselenggarakan oleh kementrian social kemahasiswaan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNS. Biasanya kegiatan rutinnya adalah pembinaan belajar matematika, tapi kali ada yang beda. Saatnya bermain dengan angka, mengotak – atik pikiran, mengisi semangat, mengaktifkan senyum dan membulatkan konsentrasi. Game yang berisi soal – soal matematika diikuti mereka dengan riang. Pertama, hal yang dilakukan adalah membuat kelompok lengkap dengan namanya. Mereka terbagi menjadi tiga kelompok yaitu Gatotkaca, Sadewa dan Arjuna. Nama wayang dipilih dengan tujuan agar mereka mengingat kembali bahwa wayang adalah salah satu budaya asli Jawa Tengah, asli Indonesia. Anak kecil memang tidak bisa lepas dari gurauan – gurauan asyik dan kadang ‘nakal’, tapi itulah mereka. ‘Nakal’ tak berarti jelek, dalam kelas ini kenakalan mereka malah menjadi bahan dakwah untuk membentuk karakter mereka. Jika salah satu anak tidak bermain game sesuai aturan atau usil dalam permainan, mereka akan mendapatkan sanksi pendidikan dan sangsi pengurangan skor. Dengan begitu, mereka akan tau bahwa dalam belajar kita memang harus jujur, disiplin dan sungguh – sungguh, tanpa hal tersebut maka akibatnya akan ditanggung sendiri.
Dari pertanyaan matematika hingga pertanyaan bahasa inggris, sejarah dan beberapa tentang lagu – lagu nasional mengisi 60 menit pertemuan di kelas sederhana itu. Mungkin tidak ada yang special disana, tapi bagi siapapun yang menyertakan cita – cita dalam jiwanya dia akan mengerti bahwa wajah – wajah mereka adalah orang – orang yang akan mengisi kursi – kursi keadilan dan kejujuran di Indonesia ini nantinya. Optimis itu beda dengan tidak realistis, dan pesimis itu bukanlah realistis. Mereka memang hanya anak – anak biasa yang setiap harinya berkutat dengan debu dan kotoran. Tetapi debu dan kotoran itu tidak menutupi mata hatinya. Mereka tau Indonesia ini masih memiliki harapan besar untuk menjadi bangsa yang bermartabat dan terbebas dari semua pencuri – pencuri bermuka pahlawan. Tawa dan candanya tidak bisa mengalahkan kegetiran bangsa ini yang mungkin sudah lelah dengan cercaan orang – orang di luar sana. Bukan hanya di luar sana, bahkan bangsa ini mendapatkan tamparan dari anaknya sendiri. Haruskah negeri tetangga berhenti menertawakan bangsa ini sedangkan keturunannya saja masih tersenyum bangga melecehkan tanah tumpah darahnya. Hati mereka yang masih murni akan selalu dicuci oleh pemuda – pemudi penyangga langit Indonesia dengan untaian semangat dan optimisme yang tinggi. Mereka adalah bintang yang sedang dipupuk oleh penjaganya yang akan selalu menemaninya hingga cerah dan bersinar nantinya. ~Aldew~


Marking Site
Sanggrahan Study Club (SSC) adalah suatu kelompok belajar yang dibentuk di SD Sanggrahan, Kentingan, Surakarta. Kegiatannya berupa les tambahan matematika, kegiatan pramuka dan marching band. SSC ini rutin diadakan setiap minggunya, dengan kata lain SSC ini bisa juga dikatakan ekstrakulikuker tetapi yang menyelanggarakan adalah pihak luar yaitu BEM UNS. Tidak semua kakak pengajar berasal dari pengurus BEM. Untuk Pramuka dan Marching Band sendiri, pengurus bekerjasama dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Marching Band dan UKM Paramuka UNS. Event – event semi besar seperti buka bersama, nonton bareng, pesantren kilat dan lomba – lomba juga pernah diselenggarakan. Walaupun teknis pelaksanaan masih terbilang sederhana dan ala kadarnya, tetapi tak berarti agenda ini adalah agenda ecek – ecek. Tujuannya jelas yaitu mengisi waktu di luar sekolah mereka dengan kegiatan yang positif. Daripada bergabung dan bermain dengan orang dewasa yang berisiko untuk terkontaminasi kata – kata tidak baik dan perilaku yang belum pada waktunya lebih baik mereka melakukan kegiatan ‘apapun’ yang positif di lingkungan sekolah. Harapannya agenda ini akan selalu berkelanjutan setiap tahunnya. Jadi akan ada tunas – tunas baru yang tetap melanjutkan estafet kebermanfaatan ini. Disini semuanya diuntungkan, penyelenggara yaitu mahasiswa UNS mendapatkan keuntungan berupa aktivitas positif yang bermanfaat dan anak – anak mendapat keuntungan belajar gratis, bermain bersama dan pastinya berbagi cerita dan InsyaAllah rezeki. Indonesia ini tidak miskin pemuda, jika gagasan ini segera diikuti oleh pemuda – pemuda di Indonesia dimanapun berada maka akan banyak study – study club yang akan memberantas kebodohan di bumi tercinta ini. Suatu saat nanti mungkin SSC akan berubah menjadi ISC, Indonesian Studty Club, yang akan menghubungkan milyaran study club yang ada di Indonesia ini. Indonesia butuh keringat orang – orang yang lelah dengan kegelisahan dan kegalauan, bukan air mata orang – orang yang lelah karena galau dan gelisah tiada guna. Air mata orang Indonesia terlalu berharga jika hanya untuk menangisi kemiskinan, karena Indonesia itu kaya, begitu juga orang - orangnya….. Jika kamu sudah mau bergerak untuk ambil bagian membangun Indonesia yang lebih baik, maka kamu akan membuktikan sendiri bahwa tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa Indonesia dan orang – orangnya adalah miskin,pendapat itu adalah SALAH BESAR!

29 Augustus 2014

'HANYA' uang



“Uang hanyalah material untuk menunjang suatu bangunan kehidupan,bukan fondasi atau tiang untuk kokohnya suatu bangunan yang tanpanya hidupmu akan hancur dan tak berguna”

Tidak bisa dipungkiri memang bahwa barang yang memiliki nilai dalam interaksi social khususnya bidang ekonomi ini begitu penting keberadaannya. Saking pntingnya beberapa orang bahkan melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Memang hanya lembaran kertas, tapi nilai di dalamnya sangat dibutuhkan umat manusia. Munafik rasanya jika seseorang mengatakan dia tidak membutuhkan uang. Tidak ada yang salah dalam kalimat tersebut, hanya saja penggunaan mudah akan merepresentasikan bahwa orang tersebut tidak peduli dengan keberlangsungan hidupnya. Menyerah, pasrah atau mungkin telah lelah karena tidak pernah memiliki uang dan bisa jadi karena selalu berurusan dengan uang. Kalimat yang kurang bijak tetapi akan lebih baik jika mengatakan bahwa ‘seseorang tidak hanya membutuhkan uang’.  Uang bukanlah segalanya yang bisa mengubah rasa benci menjadi cinta, abu menjadi emas, empedu menjadi gula atau air garam menjadi air susu. Esensi adalah alat atau media untuk melakukan transaksi jual beli, bukan transaksi identitas, etika, agama, moral atau hati nurani.
Tidak sedikit orang yang menggadaikan harga diri agar bisa mendapatkannya, walau hanya dalam sekejap dan segera menjadi milik orang lain. Bagaimana tidak? Uang yang kita miliki hanya ‘mampir’ saja mengisi kantong, dompet, tas atau rekening kita. Diantara mereka juga ada yang rela bertaruh nyawa, menyalahi aturan, saling membunuh atau merampas hak orang lain. beberapa yang lain berdalih bahwa tanpa uang mereka tidak akan hidup. Pemahaman apa sebenarnya yang sedang ada di benak manusia – manusia masa kini. Berbut baik juga tergantung pada uang. Lalu, jika hal ini terus berlanjut, apa iya suatu saat nanti ketika orang – orang yang berpaham seperti ini meninggal akan memberikan imbalan kepada mereka yang datang melayat? Kini prinsip berbuat baik dan saling menolong sudah mulai luntur dalam kehidupan sehari – hari. Melakukan suatu kebaikan kecil saja yan berhubungan dengan berkurangnya uang seseorang bisa berpikir ratusan kali. Padahal uang yang dikeluarkan untuk kebaikan tersebut tak seberapa. Sedangkan, dalam beberapa kesempatan kadang kita lupa, ratusan, jutaan bahkan milyaran rupiah melayang dengan mudahnya untuk urusan yang berhubungan dengan menolong diri sendiri.
Banyaknya orang miskin di Indonesia bukan hanya salah orang kaya saja dan bukan pula salah para koruptor saja. Bisa jadi, mereka yang miskin masih berpikir ribuan kali untuk memasukkan uang limaratus rupiah ke dalam kotak infaq. Demikian sebaliknya, orang kaya atau sejenisnya masih berpikir jutaan kali untuk menyedekahkan uang seratus ribu rupiah ke panti asuhan. Lalu bagaimana, haruskah saling menyalahkan? Iyaa…. Saling menyalahkan adalah jawaban yang paling tepat jika harus mengintimidasi salah satu pihak dari si miskin atau si kaya. Keduanya berperan mengentaskan kemiskinan di tanah air ini, yaitu kemiskinan pemikiran. Masyarakat yang rajin sedekah adalah masyarakat yang kaya dan tidak pernah kekurangan. Limapuluhribu akan menjadi cukup untuk kebutuhan sehari ketika kita masih bisa menyisakan duaribu untuk kebutuhan orang lain. jika limapuluhribu saja cukup sudah pasti penghasilan di atas limapuluhribu akan amat sangat cukup.
Tidak ada kemiskinan yang disebabkan karena terlalu sering berbagi atau bersedekah. Ketika kita masih terus berpikir dan berpikir untuk membagikan suatu hal yang kecil maka bumi pertiwi ini hanya akan dipenuhi oleh orang yang berpikir tanpa bertindak. Tindakan memang membutuhkan suatu rencana, tapi perubahan kecil lebih membutuhkan perbuatan. Anak jalanan yang lapar tidak mungkin bisa menunggu para borjuis berpikir menghitung berapa kerugian yang diderita jika dia membelikannya makanan.  Kalau harus menunggu, mereka bisa mati satu per satu. Anak – anak yang memiliki trilyunan pemikiran berbeda – beda harus menghentikan ide – idenya itu karena lapar. Mereka ada di sekitar kita dan mereka hanya butuh suatu tindakan, bukan suatu bayangan, karena mereka benar – benar di sekitar kita bukan hanya dalam negeri dongeng.