search

07 Mei 2014

(Bukankah) aku Seorang Pemimpin?




“Seorang pemimpin yang peka lebih memilih untuk mengambil keputusan yang menyakitkan untuk dirinya namun membuat orang lain bahagia daripada keputusan yang sama sekali tidak membuat bahagia dirinya ataupun orang lain”
Kata ini begitu populer dan semakin hangat diperbincangkan oleh semua kalangan, khususnya pemuda. Banyak orang mencoba menguraikan kata ini menjadi suatu definisi yang mudah dimengerti dan penuh makna dan beberapa berhasil mendefinisikan, tapi belum berhasil memahaminya. Setiap orang kenal dengan kata ini dan masing – masing dari mereka tau dengan adanya kata ini, namun kebanyakan dari mereka tidak sadar dengan arti dari kata ini. Tak ada niat untuk main tebak kata sebenarnya tapi bagaimanapun kata ini memang begitu menarik diperbincangkan.
Pemimpin atau dalam bahasa inggris kita menyebutnya leader. Sebenarnya apa pemimpin itu? Orang yang selalu mengatur orang lain, orang yang memiliki jabatan, orang yang memiliki wewenang atau kekuasaan, orang yang kaya atau orang yang atau mungkin orang yang memberikan instruksi pada orang lain? Ketika kita bertanya pada anak kecil, “Dek, pemimpin itu apa (baca: siapa à untuk memudahkan mereka)?” Kurang lebih mereka akan menjawab bapak, pak presiden, ketua kelas, pak lurah dan pak pak yang lainnya. Boleh deh praktik ke lapangan tanyakan langsung pada anak – anak. Lalu kalau kita bertanya pada orang yang lebih tua (baca:remaja/dewasa) apa kita juga akan menemukan jawaban yang sama? Tidak pastinya. Mereka akan merangkai kata demi kata hingga menjadi kalimat yang indah. Menyusun kalimat – kalimat yang indah itu menjadi suatu paragraf yang mengagumkan. Menyatukan paragraf – paragraf tersebut menjadi suatu karangan yang menggugah hati yang menyita berlembar – lembar kertas. Pemimpin bukanlah suatu kata yang sederhana bahkan jika kita mengutarakan penafsiran dari kata ini secara, maka lampu merah pun tak mampu menghentikan puluhan klausa yang terungkap rapi dari lisan kita. Tanya dan jawab sendiri sebenarnya apa definii pemimpin? Spontan hati dan otakmu akan merespon pertanyaan ini dengan sangat cepat. Jika anak kecil ditanya mengenai pemimpin maka mereka cenderung menyebutkan nama orang yang memang sudah mereka lihat menguasai atau memimpin ‘sesuatu’, lalu bagaimana dengan kita? Kita akan berpikir lebih panjang dari anak – anak ketika ditanya, “Pemimpin itu siapa?” Jawab dalam hati kita masing – masing, “Siapakah pemimpin itu?” Para pemuda calon penerus bangsa, berapakah dari kita yang langsung menjawab pertanyaan itu tanpa harus berpikir panjang dan menjawabnya dengan yakin dan lantang, walau hanya dalam hati.
Percaya deh, banyak dari kita pasti masih berpikir panjang untuk menjawab pertanyaan tadi. Bisa dikatakan kalah dengan anak kecil dan anak kecil mengalahkan kita dengan pertanyaan sesederhana itu. Hal ini terjadi karena masing – masing dari kita banyak yang belum tau bahwa ‘kita’ à aku (untuk masing – masing individu) adalah pemimpin. Setiap dari kita adalah pemimpin untuk dirinya sendiri. Kita terlahir sebagai jiwa pemimpin, yang membedakan hanyalah kesadaran kita bahwa kita adalah seorang pemimpin yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban dalam memimpin diri kita sendiri. Pemimpin yang baik tidak mungkin menjerumuskan rakyatnya ke jalan yang salah. Pemimpin yang cerdas tidak mungkin membiarkan rakyatnya lemah dan bodoh. Pemimpin yang bertanggungjawab tak akan membiarkan rakyatnya hidup dalam kesengsaraan dan pemimpin yang bijak adalah pemimpin yang bisa memutuskan keputusan paling baik, bermanfaat dan adil untuk rakyat – rakyatnya.
Langkah awal para calon pemimpin bangsa adalah mengidentifikasi diri, sudahkah dia menjadi pemimpin yang baik untuk dirinya? Jika belum, pantaskah dia memimpin makhluk lain yang lebih lemah atau lebih kuat, yang memiliki tujuan ke kanan, kiri, depan dan belakang, yang mampu berdiri tegak, membungkuk atau membusung, yang merangkak, berjalan atau berlari? Pemimpin yang tidak punya pendirian akan mengikuti kemana arah rakyatnya berjalan. Pemimpin yang sakit akan mengabaikan sebagian rakyatnya karena merasa lemah. Pemimpin yang mati sudah tidak memedulikan apapun yang dikerjakan rakyatnya, salah ataupun benar.
Hati adalah pusat pengendalian segala hal yang berhubungan dengan memimpin diri sendiri. Beberapa orang menghubungkan hati dengan perasaan atau lebih dekat dengan perempuan. Tak salah memang, tapi itu bukan suatu yang benar karena laki – laki “juga” memiliki hati. Pemimpin à hati
Rakyat à anggota tubuh yang lain
Hati memimpin ke jalan yang baik à semuanya akan berjalan ke tempat yang baik
Pemimpin yang belum bisa memimpin hatinya untuk menjalankan anggota tubuhnya ke arah yang baik à pemimpin yang belum bisa memimpin hati orang lain
Memimpin satu hati saja sulit apalagi memimpin hati – hati banyak orang. Sedang kita tau sebagian dari hati mereka ada yang sehat, sakit bahkan mati. Hal inilah yang kemudian membuat para pemimpin belum berhasil memimpin banyak orang, karena mereka menganggap hati – hati orang sama yaitu berwarna merah dan berbentuk daun waru. Memimpin banyak hati membutuhkan strategi yang tepat. Seorang yang sudah bersedia memimpin orang lain, minimal orang tersebut mampu memimpin hatinya untuk menjaga diri dari perbuatan yang merugikan orang lain. (Althifu)
                                 

06 Mei 2014

Cinta tanpa Batas

"Selamat Witria, anda mendapatkan juara 1 dalam acara ......................dengan hadiah 500juta, jalan - jalan ke Turky dan asuransi pendidikan hingga S2", ucap seorang MC dengan suara yang menggema. 
"Subhanallah, Walhamdulillah........................................" bersujud dengan penuh syukur atas Allah SWT. $$$$$$$$$$$$$$$#############################@@@@@@@@@@@@@@%%%%
Sesaat ketika itu benar - benar terjadi maka hal pertama yang aku lakukan adalah menelepon ibu dan bapak, 
"Bu, sudah siap naik haji belum? Atau umroh?"
"Ada apa to nduuk, kamu ini telpon - telpon tanpa salam kok langsung tanya kyak gitu?"
"Assalamu'alaikum bunda, sudah siap berangkat haji atau umroh belum? tnyai bapak juga yah:)?" tanyaku lembut.
"Yaa kalau ada rezeki ya siap," jawab beliau singkat. Lalu ku tutup telepon, "Wassalamu'alaikum bunda, malam ini berdo'a sama Allah ya biar bisa berangkat haji atau umroh," balasku singkat. Lalu aku tutup telepon dan menghubungi beberapa teman yang kemungkinan bisa membantuku untuk menghubungkan dengan biro umroh dan haji. Tanpa berpikir panjang ketika sudah kutemukan cara bagaimana mendaftar umroh atau haji aku langsung menelepon atau langsung ke kantornya dan mendaftarkan ibu dan bapak untuk haji (++) atau umroh, jika uangnya masih sisa yaa aku sekalian, tapi yang penting adalah beliau berdua. 
Seneng yaa jika kalimat - kalimat yang kurangkai di atas menjadi kenyataan. Ibu dan bapak memang belum pernah menyampaikan padaku kalau beliau ingin pergi menunaikan ibadah Haji. Walaupun beliau tidak pernah menyampaikan tapi bukan berarti beliau berdua tidak ingin datang ke tanah Suci untuk menyempurnakan rukun Islam ke 5 atau menunaikan ibadah haji kecil di sana, beliau tidak mau menyampaikan keinginannya karena tidak ingin membuat anak terakhirnya ini bersedih. Benarkah? Iyaa benar .. .. Ketika beliau berdua menyaksikan kabar Haji tahun lalu, aku melihat kedua mata beliau tidak bisa menyembunyikan keinginan yang luar biasa untuk bisa datang ke Baitullah berada di sana, Masjidil Haram dengan segala keindahan dan kedahsyatan yang diizinkan Allah di sana. Allahuakbar .. .. Sebelum ibu dan bapak menyampaikan keingininan beliau pergi ke sana (suatu saat nanti mungkin), beberapa tahun lalu aku sudah memikirkannya dengan matang dalam coretan mimpi anak berusia 8tahunan.
"Witri kenapa mau jadi artis?"
"Artis banyak duitnya mbak, bisa buat berangkatin haji ibu dan bapak." Simpel dan nggak bertele - tele. Walaupun semakin dewasa semakin tau bahwa sumber rezeki bukan cuma dari artis, jika Allah meridhoi maka semua itu akan terjadi, karena rencana Nya lebih indah dari apa yang kubayangkan. Sekarang, akupun terkadang masih seperti usian 8an ketika itu, aku berpikir jadi artis adalah satu - satunya cara paling cepat untuk dapat uang sebanyak itu, sehingga aku bisa memberangkatkan ibu dan bapak untuk naik haji atau umroh. Bukan hanya itu, aku juga bisa meminta ibu untuk pensiun lebih dulu. "Bunda, bunda nggak usah kerja lagi yaa, nggak usah mikirin uang sangu adik, uang kuliah, uang bensin, listrik, air dan lain - lain. Nggak usah mikirin nyuci baju, nyetrika dan lain - lain. Yang bunda pikirkan tinggal satu hal, memperbanyak ibadah pada Allah, bahagia dalam naungan Allah. Nanti kalau bunda sama bapak mau pergi pengajian kemanapun InsyaAllah adek antar. Bunda kalau mau ke rumah Reyhan sama Raka tinggal bilang adek, nanti adek antar. Nanti kalau mau Umroh ngajak Pak Ibnu yaa bunda sama mas Haku juga. Mau kemanapun InsyaAllah adek antar, sebelum adek sudah menjadi tanggungjawab orang lain atau adek sudah kembali pada Allah. Pun kalau adek kembali pada Nya, bunda nggak usah takut, kan itu berarti InsyaAllah tugas adik sudah selesai, bunda sama bapak sudah bahagia, juga mas dan mbak, semuanya sudah benar - benar menempatkan Allah di peringkat pertama dalam hati". 
Allah dengan segala kemurahan Nya memberikan segala kebaikan padaku dan keluargaku. Satu keyakinanku bahwa Allah Maha Kaya. Rezeki yang diberikan Nya dari berbagai sudut yang tidak terduka. Allah begitu mencintaiku dan keluargaku, aku tak akan menyia - nyiakan kesempatan ini, Aku juga ingin senantiasa mencintai Allah dengan istiqomah. Aku takkan berpaling dari Allah .. ..

05 Mei 2014

adalah Rahasia yang belum terungkap .. .. Matahari di Lovina mungkin tersenyum membacanya .. ..

jika boleh aku mendapatkan satu kali lagi, ungkapan cintamu pada Allah yang kau kemas dengan sentuhan artistik yang begitu memesona jutaan pasang mata... Kini, bukti sejarah itu sudah hilang entah kemana. Sudah seharusnya aku menjaga dengan baik apa yang telah kau tujukan untukku agar aku selalu mengingat sang Maha Cinta yang senantiasa memberikanku kebahagiaan, cinta dan curahan kasih sayang .. .. Sudah dua sejarah yang kuhilangkan, aku berharap suatu saat nanti jika diizinkan oleh Allah, sejarah itu akan kembali lagi dalam kemasan yang lebih indah, keadaan yang jauh lebih baik dan dengan cara yang halal.. Aku yakin, tidak adanya dua tanda 'rasa' itu disisiku adalah rencana Nya, untuk bisa menjaga hati - hati yang rapuh .. .. salam hangat, semoga senantisa dalam lindungan Nya .. ..