Sempat berpikir keras mengapa aku harus benar - benar memulai semua yang baik - baik ... Banyak hal alasannya :
1. Karena aku nggak tau kapan Allah ingin aku kembali pada Nya.
2. Karena aku ingin melihat Ibu, ayah, kedua kakakku, dan keluargaku bahagia dunia akhirat.
3. Karena aku ingin mendapatkan suami yang solih, baik akhlaknya dan paham agama.
4. Karena aku ingin menjadi seorang yang bermanfaat untuk orang lain.
5. Karena aku ingin banyak orang ang datang, menyolatkan, dan mendoakanku saat aku meninggal.
Taak
mudah memang, banyak banget hal- hal yang tak bisa kuprediksi dengan
mengandalkan kerja otak. Butuh hati yang jernih dalam meluruska niat
ini. Jatuh bangun. kuat lemah iman adalah bumbu yang menghiasi hari -
hariku untuk menjadi seorang yang baru. Dulu berpikirnya ingin
menyempurnakan diri sebagai muslimah setelah nikah nanti, tapi
pertanyaannya, cukupkah waktuku? Orang bilang aku nggak realitis! Bener
sih, aku udah dari kecil menjadi orang yang nggak realistis. Pas masih
usia 3 tahun aja selalu bilang ke bunda biar dimasukin TK. Karena bunda
kasian aku bener - bener dimasukkan deh, dan aku selalu terbayang -
bayang menjadi tokoh peri penyelamat yang baik hatinya. So, kalau ada
temen yang dinakali aku selalu nolongin dia. Terlihat bodoh mungkin,
karena aku bener - bener masih kecil banget. Akhirnya, aku malah suruh
nglanjutin aja karena udah pinter baca. Orang - orang mikirnya aku pasti
anak super. Pas masuk SD aku berimanjenasi jadi sosok Sherina dan Tasya
yang sering nongol di TV. Nyanyi - nyanyi dan njoget - njoget di depan
kaca dengan dandanan khas mereka. Nggak hanya itu, aku juga sering
banget tampil nari di depan kaca, belakang panggung, ataupun depan
panggung. Walau kek gitu tapi tetep aja, khayalanku buat nongol di TV
masih jadi imajenasi ngga genah.
Imanjinasi
- imajinasi itu tak dapat lepas dalam hidupku, hingga detik ini. Ketika
orang lain melihatku seperti ini, Dewika yang biasa - biasa saja, aku
mengimajinasikan diriku adalah seorang aktris multitalenta yang hebat
dan super. Ngak tau kenapa, yang pasti nggak gampang juga buat kayak
gitu bahkan sekarang aku juga nggak nemuin hal itu pada diriku. Dewika
sekarang ini lebih minder dan nggak PD tampil di depan. Alasannya,
karena dia sekarang berubah menjadi seorang cewek yang jauh lebih anggun
nan muslimah. Benar sih, muslimah harus anggun, tapi nggak berarti
kehilangan identitas diriku. Yap bener banget, ngomong tu gampang! Aku
harus berdiri dalam ribuan ton tanah masa lalu yang sumpek dan nyaris
mengubur seluruh tubuhku, dan aku harus BANGUN sendiri. Aku tegas
ngomong "NGGAK GAMPANG!" tapi mau sampai kapan ngomong kayak gitu?
Sampai mulut ini benar - benar nggak bisa ngomong lagi? Atau sampai
hidupmu jera melihat kehidupan yang kau jalani? Renungkan dan jalankan,
nangis itu bukan solusi yang solutif .. .. ..
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking