Sepucuk Surat untuk Ibu ....................
Ibu,
Ketika aku merasakan hawa dunia pertama kali,
Aku masih ingat, aku begitu takut,
Takut dengan dinginnya malam, panasnya siang, kejamnya
kesendirian dan menyakitkannya keramaian,
Ibu,
Senyumanmu menghapuskan segala kekhawatiranku,
Dinginnya malam tak lagi terasa dengan hangatnya pelukmu,
Panasnya siang telah kau hapus dengan sejuknya nasihatmu,
Aku tak lagi takut sendiri karena aku yakin kau selalu
menemaniku,
Dalam keramaian aku selalu yakin bahwa engkau tak kan pernah
melepasku untuk larut kedalamnya......
Ibu,
Aku baru saja tersadar,
Bahwa adindamu yang selalu kau rindukan celotehnya karena
pertanyaanmu,
“dek, tadi di sekolahan sudah punya teman? Tadi beli apa
saja? Adik jangan lupa makan yaa.....”
Kini dia telah beranjak dewasa,
Kini dia berada di ruang yang berbeda denganmu, bahkan
kadang kesibukan membuatnya lupa denganmu,
Ibu,
Dia, adindamu, adalah aku dengan sepucuk surat yang tak bisa
mengobati rasa rindu yang membuncah dalam hati,
Tahukah bu,
Hal yang paling menyakitkan untukku adalah melihat layunya
senyumanmu,
Senyuman yang tak pernah kulupa betapa tulus dan ikhlas,
Saat aku pulang, aku hanya ingin melihat senyumanmu, mencium
keningmu, memelukmu dengan pelukan penuh cinta, meringankan sedikit bebanmu,
Tapi mengapa terlalu lemah.....
Bahkan membuatmu senyum saat aku didekatmu pun kini tak
mudah,
Adindamu ini ingin mendengarkan ceritamu ibu,
Mohon dengarkanlah jeritan hatiku ketika aku mendengar doamu
di pertengahan malam yang sunyi,
Kau sebut – sebut namaku berkali – kali do’a itu, kau sebut
nama ayah, kau sebut nama kakak dan kau sebut nama keluargamu,
Apa yang terjadi padamu bu?
Sampai saat ini, aku masih sulit percaya bahwa aku memang
sudah semakin dewasa, dan itu artinya kau sudah tak muda lagi,
Terakhir, ketika kau tidur bu, aku melihat garis halus
kelelahan di bawah matamu,
Aku melihat garis – garis di tanganmu, dan aku melihat
kau,....................
Aku memang tak pernah melihat air mata di matamu bu,
tapi hati tak bisa berbohong,
bu .............
maafkan aku yang sering menceritakan lelahku padamu, padahal
engkau tak pernah,
maafkan aku yang sering menceritakan sakitku padamu, padahal
kau tak pernah,
maafkan aku yang sering menangis di hadapanmu, padahal kau
tak pernah ....................
Ibu ............
Do’a adindamu ini, InsyaAllah selalu bersamamu,
Aku begitu merindukanmu, aku begitu mencintaimu,
Semoga cinta dan kasih sayang Allah, selalu tercurah untukmu
....
Semoga ibu sehat selalu,
Untuk ibu terhebatku
dan untuk ibu – ibu hebat di manapun berada ...............
Persembahan untukmu,
Ibu ...............
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking