19 Februarie 2014

The Never Ending Journey with Jilbab




            Aroma embun pagi ini telah menyebarkan energi positif ke seluruh tubuhku. Mata ini tak bisa berdusta melihat keagungan cipta Nya yang sedang merah jingga dan terlihat malu untuk menampakkan cantiknya. Sang Surya mulai tersenyum menyapa insan – insan beruntung yang ada di bumi timur. Subhanallah, rasa takjub luar biasa yang sama sekali tak mampu kuungkapkan dengan kata - kata. Langit Solo menyampaikan salam hangat dan dukungannya, untuk angan, mimpi dan cita – citaku. Dia melihat senyumanku merekah sejak burung – burung kutilang mulai berlari kesana – kemari membawa ocehan kebahagiaan pada sahabat – sahabat mereka. Bagaimana bisa? Yaaa... Aku bisa belajar dari ciptaan Allah yang tiada kekurangan sedikitpun pada mereka.
            Aku mulai bangkit dari keterdimanku dalam mengamati kebesaran Nya.
“Bangun yuk bangun, katanya mau metik stroberi?” teriakku halus sambil berjalan melalui deretan kamar yang pintu – pintunya masih tertutup rapat.
            “Hoawm!” “Emhh...” “Apaan?”
            “Ini sudah siang,” tambahku.
            “Udah subuh kok tadi,” balas seorang perempuan berpipi tembem sambil membuka pintu dan mengucek kedua matanya.
            “Jadi main?”tanyaku.
            “Jadi donk, kebun stroberi!!!”teriaknya heboh, “Hey, yuk bangun yuuuukkk.... Tawangmangu Tawangmangu!!!”ia kembali berteriak dengan mulut yang terbuka lebih lebar dan baunya mencemari hidungku.
            “Hop!”aku menutup mulutnya dengan telapak tangan, “pencemaran udara.”
            “Hee...” dia hanya melengeh.[1]
            Lima perempuan dengan wajah yang nggak karu – karuan kangsung gelagapan mencari kamar mandi untuk mencuci muka mereka.
            “Aku dulu yang mandi!” “Aku!!” “Aku!!” bukan sesuatu yang baru memang, ketika mereka bangun bersamaan maka suasana tenang, damai, tenteram, syahdu, romantis, eksotis dan menyejukkan menjadi acakadul[2] nggak karuan. Aku yang sudah cantik dan wangi (ngeksis J) sejak subuh tadi tinggal wudhu dan duha deh.
            “Ready....!!!” “Siaaap!!!” “Berangkat!!!” sekitar seratus menit kemudian mereka mendeklarasikan diri bahwa sudah siap untuk mengadakan unforgettable journey bersamaku. After this journey, Pantai Nampu dan Sembukan[3] yang eksotis dengan pasir putihnya menjadi destinasi selanjutnya.
Rencana awal berangkat maksimal jam setengah delapan, keyataannya, “Nik, jam berapa?” tanyaku.
“Jarum panjang di angka enam,” jawabnya sambil tersenyum menatap mataku. “Jarum pendek!” tambahku.
            “Delapan!!” teriak April sambil menepuk pundakku.
            “Sekali – kali molor nggak papa kan Re, ya?” tambah Triska sambil menggunakan bando di rambutnya.
            “Sekali – kali, tapi lama – lama jadi bu-da-ya!” tegasku.
            “Maaf yaaa.....” lima orang teman kosku tiba – tiba menjadi grup paduan suara.
            “Yaudah yuk berangka!”
            Enam orang hawa yang sudah rapih dengan persiapan  super lengkap berjalan ke garasi dan mengeluarkan tiga buah motor imut. Aku bersama Apri, Triska bersama Arinda, dan Keyla si pipi tembem bersama Dwika.
            “Grojogan Sewu[4]!!!!!” teriakan mereka kembali membuat gendang telingaku bergetar hebat.
            “Bismillah dulu muslimah,” ungkapku lembut.
            “Siap Buuuuu,” jawab mereka serentak.
            “Kamu pake rok Re?” tanya Apri.
            “Iya, kenapa?” jawabku halus.
            “Aku nggak bisa boncengin.”
            “Aku punya caranya, kamu nggak usah khawatir.” Rokku terdesain lebar dan multifungsi, bisa berfungsi sebagai rok dan celana, jadi perjalanan kami tetap berlanjut dan aku tetap menggunakan rok favoritku.
 Di perjalanan Triska dan Arinda mendahuluiku dan mendahuluiku. Rambut mereka berkibar dengan bebasnya. Sayang sekali, debu – debu jalanan banyak yang menempel padahal rambut mereka begitu indah. Sesekali aku mengamati orang – orang yang berada di jalanan, lalu aku kembali fokus melihat kedepan.
            “Astaghfirullah!!! Triska!!” aku berteriak ketika Triska memaksimalkan gasnya untuk mendahului mobil, sedang di depannya ada motor yang akan menyeberang. Triska mengarahkan stangnya ke kanan hingga berada di lajur jalan yang berkebalikan.
            “Thin Thiiin!!!” mobil berwarna kuning dari arah yang berbeda mengklakson dengan kerasnya.
            “Subhanallah Walhamdulillah Wasyukurilah, Kau masih memberi kesempatan dua sahabatku itu untuk menyempurnakan diri sebagai seorang muslimah ya Allah,”bisikku. Aku lalu mengelus dada dan menenangkan jantungku.
            Perjalanan berlanjut dengan lantunan do’a dan pujian yang tak bisa lepas dari hatiku. Sungguh, aku begitu takut dengan akhir waktu yang menjadi rahasia Allah. Tak seharusnya aku menunggu – nunggu waktu yang tepat untuk berubah dan memperbaiki. Sudah seharusnya aku berubah dan memperbaiki diri sekarang. Dari kejadian tadi aku sadar bahwa waktu tak bisa menunggu, tak bisa menanti dan tak bisa menunda akhir hidup seseorang. Jika waktu merekasudah habis, pstilah tadi dua tmanku itu akan...... sudahlah, mataku malah berkaca – kaca.
            Hawa dingin Tawangmangu sudah mulai merasuk kulit paling luarku dan semakin menusuk hingga tulang rusukku.
            “Subhanallah, hawanya beda sekali ya....”
            “Iyaa, Subhanallah, kita sudah sampai,” tambah April.
            Kami memakirkan motor dan menitipkan helm, lalu berjalan menyusuri ribuan turunan anak tangga untuk menuju Grojogan Sewu.
            “Kamu nggak susah jalannya?”
            “Nggak donk, ada triknya,” jawabku.
            “Lelah ya,”sambung Triska.
            “Jangan mengeluh,”jawab Dwika.
Keringat bercucuran dari badanku begitu juga lima temanku. Suara air Grojogan Sewu sudah mulai terdengar, itu artinya kami hampir sampai. Ratusan kera yang mengetahui kedatangan kami mulai turun dan mendekat. Aku teriak – teriak nggak karuan lalu mencoba berani dan memandangi mereka satu per satu.
 “Subhanallah,” aku kembali takjub. Mereka datang bersama – sama untuk mencaritau apa kami membawa makanan, mereka mencari makanan, dan makanan itu tak dihabiskan sendiri, melainkan dibagi dengan kera – kera yang lain. Luar biasa, Allah begitu sempurna menciptakan semua ini.
Satu ketakjuban lagi, tegapnya Grojogan Sewu sudah berada tepat di depan mataku, “Allahuakbar,” aku mulai merasakan dingin aliran airnya.
            “Ayo mendekat,” panggil Triska membuyarkan ketermenunganku. Aku melangkah dengan hati – hati sambil tak berhenti mengucapkan pujian atas kekuatan Sang Maha Cinta yang tiada duanya. Di pinggir alirannya aku membaca surat cinta Allah yang menambah ketentraman hati ini. Suaraku berpadu dengan harmoni syahdu suara darinya. Mulutku tak bisa berhenti untuk tersenyum dan tersenyum.
            “Re, jilbabmu nanti basah.”
            “Nggak, aku punya strateginya. Hey, jilbab itu bukan alasan untuk diam kayak gitu, sini main – main bareng aku.”
            “Licin, nanti basah, betulinnya gimana?”
            “Rugi lho, kita harus punya strategi. Allah ingin kita merasakan Agung ciptaan – Nya, Allah ingin memanjakan mata ini.”
            “Okke, habis ini beneran yang ngajak kita ke Pantai?”
            “Pasti, jangan khawatir petualangan kita akan terus berlanjut. Besok – besok kamu pake jilbab yaa, biar rambutnya nggak dikotori debu – debu dari mata – mata yang tak halal.”
            “InsyaAllah,” jawab Triska dan Arinda bersamaan.
            Kami melanjutkan langkah menuju kebun stroberi yang siap panen. Tak berlama – lama tangan ini dengan gesitnya mengambil gunting, lalu memetik buah – buahan yang disediakan Allah untuk kunikmati dan kusyukuri. Foto – foto, bercanda, dan bersama – sama membaca do’a sebagai obat penawar rindu akan cinta – Nya.
Tidak ada yang sia – sia dari apa yang diciptakan Allah. Kita pun juga bisa membuat aktivitas kita tidak sia – sia. Semua itu bisa menjadi amal ibadah atau amal keburukan Tergantung niatnya, aku memilih untuk menjadikan aktivitasku sebagai amalan ibadah, termasuk di setiap perjalananku menelusuri rahasia – rahasia alam yang masih tersembunyi. Di setiap petualanganku, mengukir jejak – jejak penuh sejarah untuk menjaga apa yang diamanahkan Allah pada anak cucu Adam di bumi ini, ada dua hal yang tak pernah kulupakan, yaitu senantiasa mengingat Allah dan tetap teguh pada identitasku sebagai seorang muslimah yang akan selalu memperbaiki diri dan menyempurnakan apa yang seharusnya disempurnakan.

“Jangan menunggu – nunggu waktu yang tepat untuk berubah dan memperbaiki, tapi berubahlah  dan perbaikilah sekarang, karena waktu tak bisa menunggu, tak bisa menanti dan tak bisa menunda akhir hidupmu” (Althifu Dewika)


[1] Tertawa dengan mulut terbuka tapi tak banyak bersuara.
[2] berantakan
[3] Pantai yang terletak di Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah.
[4] Grojogan Sewu adalah objek wisata berupa air terjun yang dikelilingi gunung dengan pepohonan asri yang ada di daerah Tawangmangu, Karang Anyar, Jawa Tengah. Untuk mencapainya kita harus menuruni ribuan anak tangga.

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking