12 Oktober 2014

Jadi Indonesia yang dikenal Dunia

Pernah nggak kamu mengikuti suatu acara dimana banyak orang asing (turis luar negeri) yang datang? Sadar atau nggak, sebenarnya acar tersebut adalah peluang besra bagi kamu untuk mengenalkan Indonesia untuk dunia.  Mungkin kita bertanya - tanya, "Emang ngaruh? Emang mereka mau kowar - kowar tentang info yang kita kasih?" Yap ... Dan jawabannya, absolutely, ngaruh. Satu turis dari kamu, kalau acaranya melibatkan seratus orang turis maka ada seratus turis yang dapat informasi tentang Indonesia, dan dari seratus turis tadi memiliki keluarga masing - masing, nice kan? Oke okee .. Mungkin belum terbayang yaa, lets me make it clear. 
Kita nggak pernah tau kapan kesempatan itu datang. Kita nggak pernah tau kapan turis - turis asing itu datang ke Indonesia dan kita juga nggak pernah tau apa yang bakal mereka tanyakan ke kita. Sekarang gini, kalau suatu saat mereka datang ke kita buat PDKT tentang Indonesia, yakin nggak kita bakal tau apa yang mereka maksud? Yakin nggak kita bisa jawab pertanyaan - pertanyaan mereka dengan bahasa yang baik? NGGAK YAKIN!!! Itu jawabanku sekarang, kenapa? Karena itu kenyataan yang baru saja kualami. Beberapa waktu yang lalu ada agenda besar bernama TEFLIN (Teaching English as a Foreign Language Indonesia) di Lor-In hotel, Solo. Pesertanya mostly dari Indonesia memang, tapi kebanyakan dari mereka speaking English guys. Beberapa peserta juga datang dari luar bahkan pembicaranya juga beberapa dari luar. Aku nggak nyia - nyiain kesempatan untuk menjadi panitia di acara itu. Disini masalahku adalah kesiapan dalam berbahasa Inggris dengan baik. (Andai aja) waktu itu aku bisa menguasai bahasa Inggris dalam keadaan baik, pasti aku bisa mengenalkan Indonesia ke mereka. At least aku bakal bilang bahwa Solo ini adalah kota yang keren, banyak acara yang sering digelar, ada keraton, ada ini ada itu dan lain sebagainya. Aku anak bahasa Inggris, yap, bener banget. Aku bisa berbahasa Inggris, of course bisa. Tapi aku belum punya mental untuk bercakap - cakap dengan menggunakan bahasa Inggris. 
Intinya, bahasa Inggris itu penting dan sangat dibutuhkan. Belajar bahasa Inggris adalah salah satu bentuk cinta kita pada Indonesia. Kita bisa mengenalkan bahkan mempromosikan Indonesia di kancah luar negeri jika kita bisa berbahasa Inggris. Kita bisa tampil di kancah dunia dengan menggunakan bahasa Inggris. Bahasa Inggris juga akan mampu mempopulerkan Indonesia di kancah internasional. Dukung Indonesia untuk menjadi negara yang dikenal Internasioanal dengan belajar bahasa berbahasa Inggris. Kamu juga bisa mengkonfirmasi cercaan yang ditujukan pada bahasa Indonesia jika kamu bisa berbahasa Inggris .... 
Banggalah menjadi Indonesia yang dikenal Dunia ... .. .. :)

10 September 2014

Memupuk’ Bintang




Bintang adalah teman setia bulan yang setiap malam menghiasi hamparan langit di atas sana. Cahayanya memang tak secerah bulan, apalagi matahari, tapi indah kerlingannya tak bisa disembunyikan. Entah hanya sekecil titk berwarna keemasan atau mungkin segumpal zat yag bersinar sekecil apapun bentuknya, namun cahayanya tetap agung dari mata para penghuni bumi.
Pernahkah berpikir bahwa di bumi juga ada banyak bintang? Mungkin penduduk langit juga bisa melihat cahayanya dari sana, namun tak ada yang tau seberapa dahsyat gemerlap sinarnya. Bintang di dunia tak lepas dari langkah – langkah kecil para pejuang peradaban. Tangan – tangan mereka tak pernah berhenti mengepal, bukan karena marah atau geram melihat begitu kejamnya apa yang dilihat, tetapi begitu semangat membuka kedua mata mereka ke hamparan luas tanpa batas bernama dunia prestasi.
Bintang – bintang itu adalah anak – anak hebat yang terlahir dari tanah subur ini, tanah air tercinta, bernama Indonesia. Mereka tersebar luas, dari pelosok negeri hingga tengah – tengah kota. Dari tengah – tengah kota hingga pinggiran garis kekuasaan, dan salah satunya berada di kota kecil bernama Solo, dan lebih kecil lagi yaitu di sebuah kota di timur Solo, bernama Sanggrahan. Anak – anak yang masih wajar adanya tanpa beban dan pikiran, tapi sebenarnya dipundak mereka ada tanggung jawab yang mau tidak mau harus dipikul dengan rasa bangga dan optimis. Tanggung jawab itu adalah menjadi pemimpin Indonesia di era Indonesia bermartabat, suatu hari nanti.
Narasi yang cukup menarik untuk menggambarkan kehebatan anak – anak Indonesia di bumi pertiwi ini. Tidak ada cerita yang lebih menarik dari semangat seorang anak. Masa dimana hidup, mati, berkembang dan tidak berkembangnya sel otak ditentukan. Sadar atau tidak mereka akan cenderung lebih aktif di masa ini, dan itu normal. Seperti suasana yang terbangun dalam Sanggrahan Study Club di salah satu SD di Sanggrahan Surakarta sore ini, 10 September 2014. Siswa kelas 4, 5 dan 6 SD yang begitu semangat mengikuti les tambahan yang diselenggarakan oleh kementrian social kemahasiswaan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNS. Biasanya kegiatan rutinnya adalah pembinaan belajar matematika, tapi kali ada yang beda. Saatnya bermain dengan angka, mengotak – atik pikiran, mengisi semangat, mengaktifkan senyum dan membulatkan konsentrasi. Game yang berisi soal – soal matematika diikuti mereka dengan riang. Pertama, hal yang dilakukan adalah membuat kelompok lengkap dengan namanya. Mereka terbagi menjadi tiga kelompok yaitu Gatotkaca, Sadewa dan Arjuna. Nama wayang dipilih dengan tujuan agar mereka mengingat kembali bahwa wayang adalah salah satu budaya asli Jawa Tengah, asli Indonesia. Anak kecil memang tidak bisa lepas dari gurauan – gurauan asyik dan kadang ‘nakal’, tapi itulah mereka. ‘Nakal’ tak berarti jelek, dalam kelas ini kenakalan mereka malah menjadi bahan dakwah untuk membentuk karakter mereka. Jika salah satu anak tidak bermain game sesuai aturan atau usil dalam permainan, mereka akan mendapatkan sanksi pendidikan dan sangsi pengurangan skor. Dengan begitu, mereka akan tau bahwa dalam belajar kita memang harus jujur, disiplin dan sungguh – sungguh, tanpa hal tersebut maka akibatnya akan ditanggung sendiri.
Dari pertanyaan matematika hingga pertanyaan bahasa inggris, sejarah dan beberapa tentang lagu – lagu nasional mengisi 60 menit pertemuan di kelas sederhana itu. Mungkin tidak ada yang special disana, tapi bagi siapapun yang menyertakan cita – cita dalam jiwanya dia akan mengerti bahwa wajah – wajah mereka adalah orang – orang yang akan mengisi kursi – kursi keadilan dan kejujuran di Indonesia ini nantinya. Optimis itu beda dengan tidak realistis, dan pesimis itu bukanlah realistis. Mereka memang hanya anak – anak biasa yang setiap harinya berkutat dengan debu dan kotoran. Tetapi debu dan kotoran itu tidak menutupi mata hatinya. Mereka tau Indonesia ini masih memiliki harapan besar untuk menjadi bangsa yang bermartabat dan terbebas dari semua pencuri – pencuri bermuka pahlawan. Tawa dan candanya tidak bisa mengalahkan kegetiran bangsa ini yang mungkin sudah lelah dengan cercaan orang – orang di luar sana. Bukan hanya di luar sana, bahkan bangsa ini mendapatkan tamparan dari anaknya sendiri. Haruskah negeri tetangga berhenti menertawakan bangsa ini sedangkan keturunannya saja masih tersenyum bangga melecehkan tanah tumpah darahnya. Hati mereka yang masih murni akan selalu dicuci oleh pemuda – pemudi penyangga langit Indonesia dengan untaian semangat dan optimisme yang tinggi. Mereka adalah bintang yang sedang dipupuk oleh penjaganya yang akan selalu menemaninya hingga cerah dan bersinar nantinya. ~Aldew~


Marking Site
Sanggrahan Study Club (SSC) adalah suatu kelompok belajar yang dibentuk di SD Sanggrahan, Kentingan, Surakarta. Kegiatannya berupa les tambahan matematika, kegiatan pramuka dan marching band. SSC ini rutin diadakan setiap minggunya, dengan kata lain SSC ini bisa juga dikatakan ekstrakulikuker tetapi yang menyelanggarakan adalah pihak luar yaitu BEM UNS. Tidak semua kakak pengajar berasal dari pengurus BEM. Untuk Pramuka dan Marching Band sendiri, pengurus bekerjasama dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Marching Band dan UKM Paramuka UNS. Event – event semi besar seperti buka bersama, nonton bareng, pesantren kilat dan lomba – lomba juga pernah diselenggarakan. Walaupun teknis pelaksanaan masih terbilang sederhana dan ala kadarnya, tetapi tak berarti agenda ini adalah agenda ecek – ecek. Tujuannya jelas yaitu mengisi waktu di luar sekolah mereka dengan kegiatan yang positif. Daripada bergabung dan bermain dengan orang dewasa yang berisiko untuk terkontaminasi kata – kata tidak baik dan perilaku yang belum pada waktunya lebih baik mereka melakukan kegiatan ‘apapun’ yang positif di lingkungan sekolah. Harapannya agenda ini akan selalu berkelanjutan setiap tahunnya. Jadi akan ada tunas – tunas baru yang tetap melanjutkan estafet kebermanfaatan ini. Disini semuanya diuntungkan, penyelenggara yaitu mahasiswa UNS mendapatkan keuntungan berupa aktivitas positif yang bermanfaat dan anak – anak mendapat keuntungan belajar gratis, bermain bersama dan pastinya berbagi cerita dan InsyaAllah rezeki. Indonesia ini tidak miskin pemuda, jika gagasan ini segera diikuti oleh pemuda – pemuda di Indonesia dimanapun berada maka akan banyak study – study club yang akan memberantas kebodohan di bumi tercinta ini. Suatu saat nanti mungkin SSC akan berubah menjadi ISC, Indonesian Studty Club, yang akan menghubungkan milyaran study club yang ada di Indonesia ini. Indonesia butuh keringat orang – orang yang lelah dengan kegelisahan dan kegalauan, bukan air mata orang – orang yang lelah karena galau dan gelisah tiada guna. Air mata orang Indonesia terlalu berharga jika hanya untuk menangisi kemiskinan, karena Indonesia itu kaya, begitu juga orang - orangnya….. Jika kamu sudah mau bergerak untuk ambil bagian membangun Indonesia yang lebih baik, maka kamu akan membuktikan sendiri bahwa tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa Indonesia dan orang – orangnya adalah miskin,pendapat itu adalah SALAH BESAR!

29 Augustus 2014

'HANYA' uang



“Uang hanyalah material untuk menunjang suatu bangunan kehidupan,bukan fondasi atau tiang untuk kokohnya suatu bangunan yang tanpanya hidupmu akan hancur dan tak berguna”

Tidak bisa dipungkiri memang bahwa barang yang memiliki nilai dalam interaksi social khususnya bidang ekonomi ini begitu penting keberadaannya. Saking pntingnya beberapa orang bahkan melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Memang hanya lembaran kertas, tapi nilai di dalamnya sangat dibutuhkan umat manusia. Munafik rasanya jika seseorang mengatakan dia tidak membutuhkan uang. Tidak ada yang salah dalam kalimat tersebut, hanya saja penggunaan mudah akan merepresentasikan bahwa orang tersebut tidak peduli dengan keberlangsungan hidupnya. Menyerah, pasrah atau mungkin telah lelah karena tidak pernah memiliki uang dan bisa jadi karena selalu berurusan dengan uang. Kalimat yang kurang bijak tetapi akan lebih baik jika mengatakan bahwa ‘seseorang tidak hanya membutuhkan uang’.  Uang bukanlah segalanya yang bisa mengubah rasa benci menjadi cinta, abu menjadi emas, empedu menjadi gula atau air garam menjadi air susu. Esensi adalah alat atau media untuk melakukan transaksi jual beli, bukan transaksi identitas, etika, agama, moral atau hati nurani.
Tidak sedikit orang yang menggadaikan harga diri agar bisa mendapatkannya, walau hanya dalam sekejap dan segera menjadi milik orang lain. Bagaimana tidak? Uang yang kita miliki hanya ‘mampir’ saja mengisi kantong, dompet, tas atau rekening kita. Diantara mereka juga ada yang rela bertaruh nyawa, menyalahi aturan, saling membunuh atau merampas hak orang lain. beberapa yang lain berdalih bahwa tanpa uang mereka tidak akan hidup. Pemahaman apa sebenarnya yang sedang ada di benak manusia – manusia masa kini. Berbut baik juga tergantung pada uang. Lalu, jika hal ini terus berlanjut, apa iya suatu saat nanti ketika orang – orang yang berpaham seperti ini meninggal akan memberikan imbalan kepada mereka yang datang melayat? Kini prinsip berbuat baik dan saling menolong sudah mulai luntur dalam kehidupan sehari – hari. Melakukan suatu kebaikan kecil saja yan berhubungan dengan berkurangnya uang seseorang bisa berpikir ratusan kali. Padahal uang yang dikeluarkan untuk kebaikan tersebut tak seberapa. Sedangkan, dalam beberapa kesempatan kadang kita lupa, ratusan, jutaan bahkan milyaran rupiah melayang dengan mudahnya untuk urusan yang berhubungan dengan menolong diri sendiri.
Banyaknya orang miskin di Indonesia bukan hanya salah orang kaya saja dan bukan pula salah para koruptor saja. Bisa jadi, mereka yang miskin masih berpikir ribuan kali untuk memasukkan uang limaratus rupiah ke dalam kotak infaq. Demikian sebaliknya, orang kaya atau sejenisnya masih berpikir jutaan kali untuk menyedekahkan uang seratus ribu rupiah ke panti asuhan. Lalu bagaimana, haruskah saling menyalahkan? Iyaa…. Saling menyalahkan adalah jawaban yang paling tepat jika harus mengintimidasi salah satu pihak dari si miskin atau si kaya. Keduanya berperan mengentaskan kemiskinan di tanah air ini, yaitu kemiskinan pemikiran. Masyarakat yang rajin sedekah adalah masyarakat yang kaya dan tidak pernah kekurangan. Limapuluhribu akan menjadi cukup untuk kebutuhan sehari ketika kita masih bisa menyisakan duaribu untuk kebutuhan orang lain. jika limapuluhribu saja cukup sudah pasti penghasilan di atas limapuluhribu akan amat sangat cukup.
Tidak ada kemiskinan yang disebabkan karena terlalu sering berbagi atau bersedekah. Ketika kita masih terus berpikir dan berpikir untuk membagikan suatu hal yang kecil maka bumi pertiwi ini hanya akan dipenuhi oleh orang yang berpikir tanpa bertindak. Tindakan memang membutuhkan suatu rencana, tapi perubahan kecil lebih membutuhkan perbuatan. Anak jalanan yang lapar tidak mungkin bisa menunggu para borjuis berpikir menghitung berapa kerugian yang diderita jika dia membelikannya makanan.  Kalau harus menunggu, mereka bisa mati satu per satu. Anak – anak yang memiliki trilyunan pemikiran berbeda – beda harus menghentikan ide – idenya itu karena lapar. Mereka ada di sekitar kita dan mereka hanya butuh suatu tindakan, bukan suatu bayangan, karena mereka benar – benar di sekitar kita bukan hanya dalam negeri dongeng.

Sempurna Itu…….. Aku, Kamu, Dia, Dirinya dan Mereka



 

Apa arti organisasi untukmu? Disini kita tidak akan berbicara tentang apa itu organisasi karena itu terlalu ordinary. Arti yang dimaksudkan disini adalah makna, bukan pengertian secara bahasa ataupun logika, tetapi lebih pada pengertian secara individual dalam sikap dan kehidupan. Organisasi memberikan inspirasi dalam keseharian kita. Bisa dibayangkan jika kita off dari organisai, maka yang ada di hadapan kita hanyalah tugas kuliah atau masalah – masalah yang berkutat dengan kehidupan cinta, keluarga atau pekerjaan. Kita memang tidak bisa lari dari masalah – masalah tersebut, tapi organisasi bisa membawa kita berjalan lebih tenang dalam menghadapinya. Di dalam sebuah organisasi kita akan bertemu degan banyak orang yang berbeda, entah latar belakang, usia, ide, prinsip ataupun yang lainnya. Dari situ kita bisa berpikir ringan tapi bermanfaat atau kita bisa memiliki pemikiran berbobot tapi penuh makna. Keduanya tidak ada yang buruk, semuanya akan menghasilkan sebuah karya dan peradaban baru walaupun dalam waktu yang tidak singkat.
Tidak semua hal kita temukan dalam suatu organisasi, tapi yang pasti kita temukan adalah kekeluargaan, cinta, cita dan rasa. Kekeluargaan tidak mungkin tidak kita temukan dalam sebuah organisasi karena organisasi ibarat sebuah keluarga, kepala keluarganya bernama ketua dan di dalamnya ada anggota – anggota yang saling mengisi kekosongan satu sama lain yang berwujud cinta. Cinta disini tidak mungkin datang begitu saja, tapi cinta dibangun dengan sebuah perhatian, kebersamaan, pengorbanan dan rasa saling mengerti atau menghormati sebuah cita atau asa. Cita – cita dan tujuan bersama walaupun dengan cara yang berbeda tapi harus dikerjakan bersama karena dari kebersamaan itulah timbul rasa. Rasa saling menyadari kekurangan dan kelemahan antara satu dan lainnya. Rasa saling menjaga dan tidak menjatuhkan anggotanya.
Tidak akan ada suatu organisasi tanpa manusia – manusia hebat di dalamnya. Apapun itu, hanya ada satu kekuatan dalam sebuah organisasi yaitu ketulusan para pemikul tanggung jawab. Satu orang tidak akan kuat menyangga beban atas nama organisasi. Dua orang saja hanya bisa merngankan bukan melengkapi. Hingga ada beberapa tangan – tangan handal yang rela menjadi kasar telapaknya karena terlalu lelah membangun organisasi atas nama cinta. Tapi sebenarnya disitulah letak keindahannya. Walaupun begitu, tak berarti tangan – tangan yang masih halus hanya berpangku tangan dan meramaikan peradaban. Mereka juga memikirkan untuk menjadi pengusung paling tangguh yang bisa menuntaskan amanahnya dengan baik berpredikat istimewa. Ketua sebuah organisasi akan sendiri tanpa sekretaris. Mereka berdua hanya akan berdua tanpa bendahara. Mereka bertiga hanya akan mengarungi bahtera berorganisasi tanpa adanya pengurus bidang. Mereka bersama pengurus bidang mungkin belum mampu menyeberangi riak yang dahsyat tanpa adanya awak yang ikut memecahkan cara menerjang badai. Pulau kesejahteraan akan dicapai dengan sempurna jika dan hanya jika ada aku, kamu, dia, dirinya dan mereka.   

picture's source : https://www.google.co.id/search?q=kebersamaan&client=firefox-a&hs=Mij&rls=org.mozilla:en-US:officialchannel=sbsource=lnmstbm=ischsa=Xei=Qo8AVPfEGtWLuATomoCYAQved=0CAgQ_AUoAQbiw=1366bih=657#facrc=_imgdii=_imgrc=0puUotKz7ap4IM%253A%3BWrnxzKayhRqJ3M%3Bhttp%253A%252F%252Fcdn.kaskus.com%252Fimages%252F2014%252F02%252F09%252F5025984_20140209104111.jpg%3Bhttp%253A%252F%252Fwww.kaskus.co.id%252Fthread%252F52f70c6cfcca170c29000046%252Famazing--macam-macam-kebersamaan--matabelo%252F1%3B1280%3B984

11 Augustus 2014

‘Peran Ganda’ dalam Keluarga Bukanlah Pilihan




“Sendiri bukan berarti lemah dan berdua tidak pula kuat, karena berdua tak berarti apa – apa jika sendiri – sendiri, yang menjadikanmu lebih kuat adalah berdua dan bersama”
Single parent, sebutan untuk seorang perempuan atau laki – laki yang mengasuh anaknya sendiri, entah karena pasangan hidupnya meninggal dunia, meninggalkan karena lari dari tanggung jawab atau mungkin meninggalkan karena sudah bercerai. Satu decade terakhir khalayak bisa jadi mulai kecewa dengan public figure yang semakin gencar mempublikasikan ketegaran mereka menjadi seorang single parent dan mulai menjadi tren, bahkan kebanggaan. Fenomena tersebut jelas disaksikan masyarakat dalam kesehariannya dimana seorang ayah berperan pula sebagai ibu dengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Demikian pula sebaliknya, seorang ibu berperan sebagai ayah, yaitu mencari nafkah, memperbaiki rumah bahkan angkat junjung mengerjakan pekerjaan laki – laki. Ironis memang, sempat berpikir keras ketika melewati sebuah gedung yang baru dibangun. Disana kuli bangunan yang bekerja nyaris semuanya perempuan. Dengan baju lengan panjang, lengkap dengan sarung tangan, celana panjang, sepatu boots dan caping. Pikiran yang berlarian dalam otak saya ketika itu adalah dimanan suaminya, apa tidak bekerja, apa sudah meninggal, apa tidak bertanggungjawab, apa dia memang ingin bekerja, apa a, apa b, apa c dan apa – apa yang lain hingga tak sadar saya terlarut dalam suasana haru. Bukankah dia diciptakan dari tulang rusuk laki – laki? Memang perempuan bukan makhluk yang lemah, tapi bagaimanapun, tenaga mereka tidak sekuat laki – laki, itu sudah fitrah.
Di tempat lain, ada pula kisah seorang suami yang bekerja banting tulang untuk mencukupi keluarganya. Sang istripun mendukung untuk selalu membelanjakan apa yang telah dinafkahkan suaminya, yaitu membelanjakan apa yang diberi suaminya….. untuk ke salon dan berbelanja. Bahkan beberapa kali anaknya kelaparan karena ibunya lupa memberinya makan. Yang seperti ini, apa disebut single parent juga? Tidak masalah sebenarnya bagi seorang istri yang tidak bekerja, tapi masalahnya disini adalah tidak bekerja dan tidak mengurusi pekerjaan rumah, termasuk anaknya. Atau mungkin sebaliknya, seorang istri yang bekerja mati – matian untuk keluarganya, sedangkan sang suami hanya di rumah tanpa ada usaha apa – apa. Yang saya bicarakan adalah seorang suami yang masih dalam keadaan sehat dan pada dasarnya masih mampu untuk berupaya dalam menafkahi isterinya. Sulit untuk mengatakan double parent karena kenyataannya yang bekerja hanyalah satu orang saja, yaitu ibu seorang perempuan. Setau saya tulang rusuk lebih rapuh lalu mengapa harus berperan menjadi tulang punggung.
Di belahan bumi lainnya malah lebih dramatis dan kejam. Seorang ayah tiga anak dan satu istri dengan kehidupan yang cukup baik malah meninggalkan istrinya tanpa pamit dengan alasan lelah dengan pertengkaran. Tanpa mengucap cerai, pisah atau sebangsanya, sang suami hanya pergi asal – asalan entah kemana dan hingga sekian tahun berjalan masih belum kembali dan tak jelas keberadaannya. Saya tidak pernah mempermasalahkan kepergiannya karena sebagai orang lain, saya tutup telinga dengan perkara apa yang terjadi dalam rumah tangganya, menurut saya itu aib jadi sudah benar jika antara dia dan istrinya saling menutupi. Yang saya permasalahkan adalah tanggung jawabnya sebagai ayah atas ketiga anaknya, apapun alasannya, saya tidak akan pernah membenarkan apa yang dilakukannya. Bukankah dia yang harusnya bertanggungjawab atas makhluk tanpa dosa yang dengan perantaranya mereka dilahirkan di dunia ini?
Saya tidak mengadili satu pihak disini. Dimanapun dan siapapun ketika mereka sudah dipertemukan pasti tidak ingin untuk dipisahkan kecuali maut, pun saat mereka mengikrarkan janji suci atas nama Tuhan, pasti pula tak menginginkan adanya perceraian. Ayah tak mungkin ingin meninggalkan anaknya dalam keadaan apapun, juga seorang ibu yang pasti akan selalu memberikan yang terbak dari yang terbaik untuk anaknya. Hal yang tidak bisa saya terima disini adalah dimana letak tanggung jawab dan penepatan janji akan kesepakatan yang telah dibuat di hadapan Allah SWT. Apakah pernikahan yang dijalankan tidak didasarkan pada apa yang telah diatur oleh Allah, kemudian diterapkan oleh Rasulullah? Wallahualam.. Saya sendiri saat ini hanya bisa menjadi pengamat dan penilai. Hingga suatu saat nanti saya hanya ingin menjadi seorang yang dapat menginspirasi orang lain, bahwa rumah tangga bukanlah ajang untuk coba – coba jadi tidak ada alasan untuk menangis hanya karena terkena jarum, jatuh hanya karena tersandung kerikil ataupun sakit hanya karena gigitan nyamuk. Peran ganda dalam keluarga memang bukan suatu pilihan, tetapi kewajiban. Seorang suami suatu saat harus bisa berperan menjadi seorang istri, saat sang istri sakit misalnya, tapi hanya dalam waktu tertentu, bukan untuk selamanya. Seorang istri juga harus multi talenta, ketika ada pekerjaan suami yang belum terselesaikan dan mampu diselesaikan seorang isteri, itu sah saja, tapi tidak untuk dibebankan pada isteri. Allah Maha Adil, Dia telah memberikan kelebihan dan kekurangan masing – masing pada laki – laki dan perempuan.
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Qs. An Nisaa’ : 34)

17 Julie 2014

Rijaal wa nisaa'

"Hawa diciptakan Allah SWT dari tulang rusuk adam yang paling bengkok." Memang begitu adanya yang disebutkan dalam hadits Bukhori. Yang paling bengkok adalah tulang rusuk paling atas, jika tulang itu dibiarkan akan tetap bengkok, tetapi jika diluruskan akan patah, kecuali kau luruskan dengan 'hati - hati'. Hadits ini adalah hadits yang indah dimana dalam hadits ini terkandung makna bagaimana seharusnya seorang laki - laki bersikap kepada seorang perempuan. Pada dasarnya tidak ada perempuan yang mau diperlakukan kasar oleh seorang laki - laki. Jangankan kasar, kata - kata yang terkesan ditinggikan atau menekan saja bisa membuat seorang perempuan merasa tersinggung. Pernah dalam suatu keluarga, sang istri bertanya kepada suaminya dengan nada khas yang lembut tanda cinta dan menghormati sang suami. 
"Mas,kasurnya belum dimasukkan...." sang istri mengingatkan suaminya karena kasur yang dijemur belum dimasukkan.
"Nanti kan bisa... Ini baru istirahat!" Kalimat dari sang suami ini akan menjadi multi tafsir ketika dibaca dengan nada yang berbeda. Jelasnya, jawaban sang suami sebenarnya biasa tanpa tekanan yang kuat, tapi yang harus digarisbawahi, tidak pula bernada datar dan dengan irama santai namun terkesan mengeluh. Seketika sang istri tidak mau menanggapi pertanyaan suamu untuk sementara waktu. Ketika dikonfirmasi ternyata benar, sang suami tak merasa kalau kata - kata yang diungkapkannya terkesan menekan atau membentak. Dalam hal ini, sang suami ataukah sang isteri yang salah? Laki - laki yang paham akan apa yang harus dilakukannya berdasar perintah Allah lalu Rasul - Nya akan memahami bahwa sikap yang ditunjukkan isterinya adalah wajar. Menyampaikan dengan nada yang wajar saja terkadang perempuan sudah merasa terintimidasi apalagi dengan nada yang kasar dan menekan. Yang lembut belum tentu melembutkan, tetapi yang melembutkan sudah pasti yang lembut. Kata - kata yang melembutkan adalah kata yang datangnya dari cinta pada Allah, sedang cinta pada Nya tak ada yang menyakitkan dan pasti kata yang diungkapkan pula adalah kata yang lembut. Tidak semua kata yang melembutkan adalah ungkapan manja atau ungkapan yang membuat seseorang terkesan lemah dan mudah tersinggung. Dalam Al - Qur'an juga banyak disebut panggilan atau ungkapan yang melembutkan, misalnya Yaa bunayya atau bagaimana Allah memanggil hamba - hamba Nya dengan sebutan "Hai orang - orang yang beriman". Baiknya sang suami menjawab pernyataan isterinya tadi dengan ungkapan yang melembutkan dan berkesan bagi sang isteri. 
"O iyayaa, iyadeh sebentar, habis istirahat.... makasih yaa ma...." dengan sentuhan senyuman agar menambah manis suasana. Indah bukan, dan tidak akan menyulut perang kecil dalam keharmonisan keluarga yang kadang bisa mengganggu banyak orang termasuk anak - anak. Tulisan ini saya buat bukan karena saya sudah punya suami lalu mengalami hal di atas. Pengalaman - pengalaman yang kadang diremehkan orang namun berharga bagi diri saya ini saya dapatkan karena saya memiliki banyak 'teman' ibu - ibu dan sering berlaturahmi dengan keluarga mereka. Masih mending kan kalau peperangan kecil yang tidak begitu penting tersebut hanya didengarkan oleh anak - anak, nah kalau didengarkan orang lain? Disini saya tidak berpihak pada perempuan saja atau dalam contoh di atas saya menyebut langsung dengan nama isteri. Saya hanya ingin menekankan bahwa sikap yang ada pada seorang isteri itu wajar adanya, namun tak berarti perempuan bisa seenaknya menyalahkan semua kesensitifannya pada laki- laki. 
Laki - laki dan perempuan sama - sama memiliki tugas dan tanggung jawab yang berat. Allah Maha Adil, tidak ada yang diuntungkan dan dirugikan atas kodrat masing - masing. Kesenjangan peran antara perempuan dan laki - laki itu hanyalah mengada  - ada dan hanya dilakukan oleh orang - orang yang kurang bersyukur. Walaupun sejak kecil saya sering melihat perlakuan unfair laki - laki kepada perempuan, khususnya suami kepada isteri, tapi saya tetap melihatnya dari sisi yang lain. Tak berarti saya berpihak pada sikap mereka yang kadang memang benar - benar 'sok jagoan', tapi saya mengambil pelajaran bagaimana agar imam, pemimpin, pembimbing, serta pelindung saya kelak tidak akan seperti itu. Setiap ada akibat pasti sebelumnya ada sebab yang menghasilkan akibat tersebut. Dalam hal ini saya hanya fokus pada sebab apa - apa yang membuat sosok yang seharusnya menjadi 'imam' tiba - tiba berubah menjadi 'penjajah'. 
Kalau boleh saya egois sedikit, maka saya akan katakan bahwa seorang laki - laki (read:husband) haruslah seorang imam yang memiliki ilmu agama jauh lebih baik dan lebih banyak daripada isteri juga merupakan nahkoda yang handal dan tak takut akan terjangan badai. Tidak ada seorang suami yang dibangunkan isterinya untuk sholat subuh, tidak ada seorang suami yang menerima uang dari jerih payah seorang isteri, tidak ada suami yang 'tunduk' dengan semua yang diperintahkan isteri, tidak ada suami yang membiarkan isteri banting tulang mencari rezeki sedang dia tiduran, noton TV, jalan - jalan bahkan main mata di rumah atau di tempat lain. Tidak ada suami yang tidak bisa mengimami isteri saat sholat, tidak ada suami yang tidak bisa berdakwah dan masih banyak lagi ........................... Kadang keegoisan ini muncul karena rasa sakit melihat sikap para laki - laki yang beberapa tidak gentlemen. Tapi tidak semua lelaki seperti itu. Sampai saat ini, aku masih yakin bahwa masih ada laki - laki yang tidak bisa meletakkan cintanya, di atas cintanya pada Allah, lalu Rasulullah, lalu ibu, ibu, ibu kemudian ayahnya. Lelaki seperti itu tidak akan mendapatkan seorang perempuan yang akan menjadi istrinya, kecuali perempuan yang juga mampu menjaga amanah dalam hati Nya, hingga sudah pasti kehalalan baginya ..... ~~~a.d.
"Ar rijaalu qowwa muuna 'alannisaa' ......................................" An - Nisa'

13 Julie 2014

Because We're Extraordinary

Kalau sebelumnya ngomongin tentang orang - orang special (read:friend) yang menemaniku selama 2 tahun terakhir, ini ni sahabat - sahabatku yang setia membersamaiku selama ..........................(mikir:1,2,3,4,5,6,7,8) 8 tahuuun!!!!:) Sampai saat ini aku nggak tau nama 'kita' ini apa. Dulu sempat ngasih nama Sinarya (nama kita terus disingkat=ordinary), selain itu juga bermakna selalu menyinari orang - orang yang ada di sekitar kita (matahari kalee). Sayangnya nama itu aku publishkan ketika SMP dan menurutku di masa yang mana masih usum (baca:musim) cinta monyet - monyetan itu merupakan masa di mana seseorang labil- labilnya dan alay - alaynya (walaupun klimaksnya mungkin pas pertengahan SMA). Foto yang ada di atas diambil sekitar beberapa tahun yang lalu. Terlihat jelas dimana mukaku dan teman - temanku masih bersih tanpa jerawat, itu artinya ketika itu kita nggak mikirin hal - hal yang berat seperti ada ada di pikiran kami saat ini. Pikiran terbaru yang paling mengganggu kami, kecuali yang tengah, adalah CSI atau Clon "thuuut" Idaman. Hahaa ... Aku sempat dibuat pusing karenanya, tapi nggak papalah siapa tau itu cuma masa - masa galau karena aku sudah beberapa kali dapat undangan atau 'serat ulem' dari teman - temanku. 
WHO ARE THEY???
Jilbab Coklat paling kanan namanya Dessy Andriani Pratiwi. Lahir di ..........,  Desember ............ Dia nggak pernah ngrasain yang namanya TK, makanya sampai sekarang dia doyan banget kalo diajak maenan, apapun itu. Rumahnya di ketinggian ....dpl, dimana dari rumahnya aku bisa melihat kota Wonogiri yang cantik nan memesona yang dikelilingi oleh Gunung Gandul yang indah nan permai. Pertama kali kenal karena.................karena dia pendiem, masih lugu banget, terus sendirian gitu, pikirku dia tertindas atau terdholimi oleh teman - temannya jadi aku langsung mendekatinya dan berkenalan ..:D Eh iya, dia jago nge-dance lho..... Hahaaa ... Kalau inget gayanya nge - dance, wuzz.. bikin aku nggak kuat. Yang khas dari dia adalah senyumannya. Yang di foto itu bukan senyuman khasnya. Dia seorang yang ramah sama semua orang termasuk orang yang mungkin nggak baik sama dia, tapi setauku musuh dia lebih sedikit dari aku. Seorang supel yang impiannya setinggi langit ke tujuh yang nggak pernah aku ngerti kenapa dia bisa dapet imajinasi sebanyak itu. Seingatku dia gila banget sama Jerman, lebih tepatnya timnas Jerman , dan khususnya lagi pemain nomor 11 bernama Miroslav Close. Gara - gara dia juga aku suka sama timnas Jerman, lebih tepatnya sih 'pemain' Timnas Jerman.Kehidupan SMP nya berlika - liku, tapi lika - likunya itu positif. Banyak organisasi yang dia ikuti, dan dia selalu konsisten dengan semu kegiatannya. Seorang yang akrab kukenal dengan keceriaan sepanjang waktu, kecuali kalau pas males. Kritikus handalku ini juga merupakan orang pertama yang mengetahui airmata ku jatuh bercucuran waktu di Bali karena 'thuuuut' dan sebagai saksi, dimana pertama kali aku menerima sms yang isinya "thuuuuuut" dari seseorang. Waktu itu kami lagi duduk bareng 1 jok di bis, dan karena sms itu dia langsung memberitahukan kabar gembira itu pada guruku bernama Elizabeth. Aduh jadi sampai situ deh .... Udah udah ... Lanjut lagi ke masa - masa SMA nya... Sejalan denganku, saat SMA dia muli berjilbab. Nggak ada yang berubah dari dia, selain penampilannya yang lebih baik dan perilakunya yang semakin santun saja. Oiya lupa, waktu SMP aku sekelas dengannya saat kelas VII E dan VIII E. Nah pas SMA, aku sekelas sama dia lagi pas kelas IX. Sebangku lagi nggak? Pastinya... Bahkan kami sempat ditegur guru bahasa Jepang gara - gara surat - suratan saat jam pelajaran. Dia selalu unggul dari aku, apalagi kalau pas pelajaran matematika. Aduh, ngomongin ini tiba - tiba jantungku deg - deg an aja, kenapa yaaa..... Pokoknya, dia sama gilanya kayak temanku yang bernama Diaz kalau masalah matematika dan fisika. Pas kelas XI barulah kita berpisah, dia ada di kelas IPA dan aku di kelas IPS. Air mataku nyaris kering ketika aku tau masuk kelas IPS. Mulai saat itu kita jauh.... Tapi jauh disini tak berarti tak saling menyapa dan tak saling mengerti. Kami tetap meluangkan waktu untuk bersama, bercanda tawa dan saling megisi kekosongan. Walaupun kenyataannya aku lebih sibuk dengan karirku dalam bidang tarik suara yang semakin menanjak di masa itu. Satu - satunya hal yang bikin aku sedih adalah kalau kita kumpul terus mereka ngomongin pelajaran. Gila aja, mereka ngomongi proton,newton,pleton atau apalah itu yang aku sama sekali nggak tau. Aku mau ikut belajar tentang nota debet nota kredit gantian mereka yang nggak tau. Dessy tau banyaaak banget tentang aku, asli, banyak banget. Yang aku salutkan dari dia, progress keimanannya bagus banget. Dia hidup dengan proses dan konsisten dengan prosesnya, jadi aku yakin proses itu akan membawanya ada kesuksesan yang sebenarnya. Dan satu lagi, dia belum pernah yang namanya pacaran. Dia tau dia punya hati dan dia tau dia punya cinta tapi dia tau kalau semua itu adalah fitrah yang harus dijaga. Pernah sih sekali jatuh cinta sama laki - laki yang namanya *****i, tapi Alhamdulillah dia masih dilindungi sama Allah SWT, so mereka cuma biasa - biasa aja menjalani hubungan tanpa status. Eits kok HTS, bukan - bukan, menjalani hubungan persahabatan yang 'lebih' akrab dari lainnya ;).. #salam nyengir
Yang tengah dengan jilbab cokelat muda namanya Nena Amalia. Inini temanku yang dulu sempat berprofesi menjadi model dan yang paling banyak fans nya sejak pertama kali aku mengenalnya. Walaupun model tapi dia biasa - biasa aja nggak kayak sahabatnya yang negebet banget jadi artis sampai ngirim banyak banget foto buat dikirim ke agency model yang ada di Jakarta, termasuk di Zuma Production miliknya Arzetti Bilbina. Lika - liku hidupnya yang banyak aku tau adalah manis. Jarang banget denger cerita sedih dari dia (Alhamdulillah), bersyukur karena sahabatku satu ini selalu dianugrahi kebahagiaan sama Allah SWT. Dia adalah orang yang rapi menata hidupnya, baik itu apa yang dikerjakannya, apa yang dipihnya, apa yang dimilikinya ataupun apa yang didapatkannya. Setauku dulu dia sempet dimusuhi sama bos 'genk' karena dia disukai sama cowok yang disukainya (klasik banget). Kayak di tipi2 gitu deh.. Hahahaa ... ... Sebagai yang paling tua antara kami, dia memang terlihat lebih dewasa dari kami dan dia adalah satu - satunya dari kami bertiga yang memunyai rencana realistis. Keren memang... Yaa walaupun sesekali punya keinginan - keingnan gila kayak aku dan Dessy, tapi dia nggak parah. SMP aku sekelas dengannya waktu kelas VII dan IX. Dia seorang yang sedikit lebih sensitif dari Dessy. Tapi itu wajar kok dan aku memakluminya. Dia adalah saksi dimana seseorang yang sangat special bermain keyboard di depan meja kami saat praktik seni music lalu tangannya gemetar dan benar - benar terllihat grogi. Hemh .. Orangnya sekarang sudah sukses nan jauh disana.... Udah - udah, kembali lagi ke Nena. Perempuan yang lahir di ..............., 25 Desember ...........ini sangat suka dengan kucing. Kucing di rumahnya saja dinamai Elo, mungkin karena suaranya bagus kali. Di foto buku kenangan SMP aku bersanding dengan dia karena kami sekelas, bedanya dia menggunakan baju adat Bali, ASLI CANTIK BANGET. Pas SMA kelas X dia belum mantap ni buat berhijab, tapi Alhamdulillah, hidayah Allah didapatkannya ketika dia berada di kelas XI. Semakin cantik aja sahabatku niii .. .. .. Dia ada di kelas IPA bareng Dessy dan kami sedikit lebih jauh karena itu, tapi tetep kami punya waktu khusus buat barengan. Yang aku salutkan dari dia adalah, walaupun dia cantik tapi dia nggak neko - neko. Asli!! cantiknya alami, inside dan outside. Nggak ada yang dipalsukan dari hidupnya dia, termasuk cintanya. Ketenangannya dalam menghadapi masalah juga merupakan nilai ++ yang bakal membawanya meraih mimpi - mimpinya di masa depan ... ... Kita punya impian, suatu saat nanti sebelum masing - masing kami menikah, kami akan traveling, kemanapun itu yang penting kami bersama. Dan suatu saat nanti, kami bermimpi untuk menunaikan ibadah Umroh/Haji bersama seorang imam yang sudah halal bagi kami..Dan suatu saat nanti, kami akan berkumpul untuk saling bercerita tentang mimpi - mimpi kami yang sudah mulai tercapai satu per satu.... InsyaAllah aamiin..