10 September 2014

Memupuk’ Bintang




Bintang adalah teman setia bulan yang setiap malam menghiasi hamparan langit di atas sana. Cahayanya memang tak secerah bulan, apalagi matahari, tapi indah kerlingannya tak bisa disembunyikan. Entah hanya sekecil titk berwarna keemasan atau mungkin segumpal zat yag bersinar sekecil apapun bentuknya, namun cahayanya tetap agung dari mata para penghuni bumi.
Pernahkah berpikir bahwa di bumi juga ada banyak bintang? Mungkin penduduk langit juga bisa melihat cahayanya dari sana, namun tak ada yang tau seberapa dahsyat gemerlap sinarnya. Bintang di dunia tak lepas dari langkah – langkah kecil para pejuang peradaban. Tangan – tangan mereka tak pernah berhenti mengepal, bukan karena marah atau geram melihat begitu kejamnya apa yang dilihat, tetapi begitu semangat membuka kedua mata mereka ke hamparan luas tanpa batas bernama dunia prestasi.
Bintang – bintang itu adalah anak – anak hebat yang terlahir dari tanah subur ini, tanah air tercinta, bernama Indonesia. Mereka tersebar luas, dari pelosok negeri hingga tengah – tengah kota. Dari tengah – tengah kota hingga pinggiran garis kekuasaan, dan salah satunya berada di kota kecil bernama Solo, dan lebih kecil lagi yaitu di sebuah kota di timur Solo, bernama Sanggrahan. Anak – anak yang masih wajar adanya tanpa beban dan pikiran, tapi sebenarnya dipundak mereka ada tanggung jawab yang mau tidak mau harus dipikul dengan rasa bangga dan optimis. Tanggung jawab itu adalah menjadi pemimpin Indonesia di era Indonesia bermartabat, suatu hari nanti.
Narasi yang cukup menarik untuk menggambarkan kehebatan anak – anak Indonesia di bumi pertiwi ini. Tidak ada cerita yang lebih menarik dari semangat seorang anak. Masa dimana hidup, mati, berkembang dan tidak berkembangnya sel otak ditentukan. Sadar atau tidak mereka akan cenderung lebih aktif di masa ini, dan itu normal. Seperti suasana yang terbangun dalam Sanggrahan Study Club di salah satu SD di Sanggrahan Surakarta sore ini, 10 September 2014. Siswa kelas 4, 5 dan 6 SD yang begitu semangat mengikuti les tambahan yang diselenggarakan oleh kementrian social kemahasiswaan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNS. Biasanya kegiatan rutinnya adalah pembinaan belajar matematika, tapi kali ada yang beda. Saatnya bermain dengan angka, mengotak – atik pikiran, mengisi semangat, mengaktifkan senyum dan membulatkan konsentrasi. Game yang berisi soal – soal matematika diikuti mereka dengan riang. Pertama, hal yang dilakukan adalah membuat kelompok lengkap dengan namanya. Mereka terbagi menjadi tiga kelompok yaitu Gatotkaca, Sadewa dan Arjuna. Nama wayang dipilih dengan tujuan agar mereka mengingat kembali bahwa wayang adalah salah satu budaya asli Jawa Tengah, asli Indonesia. Anak kecil memang tidak bisa lepas dari gurauan – gurauan asyik dan kadang ‘nakal’, tapi itulah mereka. ‘Nakal’ tak berarti jelek, dalam kelas ini kenakalan mereka malah menjadi bahan dakwah untuk membentuk karakter mereka. Jika salah satu anak tidak bermain game sesuai aturan atau usil dalam permainan, mereka akan mendapatkan sanksi pendidikan dan sangsi pengurangan skor. Dengan begitu, mereka akan tau bahwa dalam belajar kita memang harus jujur, disiplin dan sungguh – sungguh, tanpa hal tersebut maka akibatnya akan ditanggung sendiri.
Dari pertanyaan matematika hingga pertanyaan bahasa inggris, sejarah dan beberapa tentang lagu – lagu nasional mengisi 60 menit pertemuan di kelas sederhana itu. Mungkin tidak ada yang special disana, tapi bagi siapapun yang menyertakan cita – cita dalam jiwanya dia akan mengerti bahwa wajah – wajah mereka adalah orang – orang yang akan mengisi kursi – kursi keadilan dan kejujuran di Indonesia ini nantinya. Optimis itu beda dengan tidak realistis, dan pesimis itu bukanlah realistis. Mereka memang hanya anak – anak biasa yang setiap harinya berkutat dengan debu dan kotoran. Tetapi debu dan kotoran itu tidak menutupi mata hatinya. Mereka tau Indonesia ini masih memiliki harapan besar untuk menjadi bangsa yang bermartabat dan terbebas dari semua pencuri – pencuri bermuka pahlawan. Tawa dan candanya tidak bisa mengalahkan kegetiran bangsa ini yang mungkin sudah lelah dengan cercaan orang – orang di luar sana. Bukan hanya di luar sana, bahkan bangsa ini mendapatkan tamparan dari anaknya sendiri. Haruskah negeri tetangga berhenti menertawakan bangsa ini sedangkan keturunannya saja masih tersenyum bangga melecehkan tanah tumpah darahnya. Hati mereka yang masih murni akan selalu dicuci oleh pemuda – pemudi penyangga langit Indonesia dengan untaian semangat dan optimisme yang tinggi. Mereka adalah bintang yang sedang dipupuk oleh penjaganya yang akan selalu menemaninya hingga cerah dan bersinar nantinya. ~Aldew~


Marking Site
Sanggrahan Study Club (SSC) adalah suatu kelompok belajar yang dibentuk di SD Sanggrahan, Kentingan, Surakarta. Kegiatannya berupa les tambahan matematika, kegiatan pramuka dan marching band. SSC ini rutin diadakan setiap minggunya, dengan kata lain SSC ini bisa juga dikatakan ekstrakulikuker tetapi yang menyelanggarakan adalah pihak luar yaitu BEM UNS. Tidak semua kakak pengajar berasal dari pengurus BEM. Untuk Pramuka dan Marching Band sendiri, pengurus bekerjasama dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Marching Band dan UKM Paramuka UNS. Event – event semi besar seperti buka bersama, nonton bareng, pesantren kilat dan lomba – lomba juga pernah diselenggarakan. Walaupun teknis pelaksanaan masih terbilang sederhana dan ala kadarnya, tetapi tak berarti agenda ini adalah agenda ecek – ecek. Tujuannya jelas yaitu mengisi waktu di luar sekolah mereka dengan kegiatan yang positif. Daripada bergabung dan bermain dengan orang dewasa yang berisiko untuk terkontaminasi kata – kata tidak baik dan perilaku yang belum pada waktunya lebih baik mereka melakukan kegiatan ‘apapun’ yang positif di lingkungan sekolah. Harapannya agenda ini akan selalu berkelanjutan setiap tahunnya. Jadi akan ada tunas – tunas baru yang tetap melanjutkan estafet kebermanfaatan ini. Disini semuanya diuntungkan, penyelenggara yaitu mahasiswa UNS mendapatkan keuntungan berupa aktivitas positif yang bermanfaat dan anak – anak mendapat keuntungan belajar gratis, bermain bersama dan pastinya berbagi cerita dan InsyaAllah rezeki. Indonesia ini tidak miskin pemuda, jika gagasan ini segera diikuti oleh pemuda – pemuda di Indonesia dimanapun berada maka akan banyak study – study club yang akan memberantas kebodohan di bumi tercinta ini. Suatu saat nanti mungkin SSC akan berubah menjadi ISC, Indonesian Studty Club, yang akan menghubungkan milyaran study club yang ada di Indonesia ini. Indonesia butuh keringat orang – orang yang lelah dengan kegelisahan dan kegalauan, bukan air mata orang – orang yang lelah karena galau dan gelisah tiada guna. Air mata orang Indonesia terlalu berharga jika hanya untuk menangisi kemiskinan, karena Indonesia itu kaya, begitu juga orang - orangnya….. Jika kamu sudah mau bergerak untuk ambil bagian membangun Indonesia yang lebih baik, maka kamu akan membuktikan sendiri bahwa tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa Indonesia dan orang – orangnya adalah miskin,pendapat itu adalah SALAH BESAR!

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking