29 Augustus 2014

'HANYA' uang



“Uang hanyalah material untuk menunjang suatu bangunan kehidupan,bukan fondasi atau tiang untuk kokohnya suatu bangunan yang tanpanya hidupmu akan hancur dan tak berguna”

Tidak bisa dipungkiri memang bahwa barang yang memiliki nilai dalam interaksi social khususnya bidang ekonomi ini begitu penting keberadaannya. Saking pntingnya beberapa orang bahkan melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Memang hanya lembaran kertas, tapi nilai di dalamnya sangat dibutuhkan umat manusia. Munafik rasanya jika seseorang mengatakan dia tidak membutuhkan uang. Tidak ada yang salah dalam kalimat tersebut, hanya saja penggunaan mudah akan merepresentasikan bahwa orang tersebut tidak peduli dengan keberlangsungan hidupnya. Menyerah, pasrah atau mungkin telah lelah karena tidak pernah memiliki uang dan bisa jadi karena selalu berurusan dengan uang. Kalimat yang kurang bijak tetapi akan lebih baik jika mengatakan bahwa ‘seseorang tidak hanya membutuhkan uang’.  Uang bukanlah segalanya yang bisa mengubah rasa benci menjadi cinta, abu menjadi emas, empedu menjadi gula atau air garam menjadi air susu. Esensi adalah alat atau media untuk melakukan transaksi jual beli, bukan transaksi identitas, etika, agama, moral atau hati nurani.
Tidak sedikit orang yang menggadaikan harga diri agar bisa mendapatkannya, walau hanya dalam sekejap dan segera menjadi milik orang lain. Bagaimana tidak? Uang yang kita miliki hanya ‘mampir’ saja mengisi kantong, dompet, tas atau rekening kita. Diantara mereka juga ada yang rela bertaruh nyawa, menyalahi aturan, saling membunuh atau merampas hak orang lain. beberapa yang lain berdalih bahwa tanpa uang mereka tidak akan hidup. Pemahaman apa sebenarnya yang sedang ada di benak manusia – manusia masa kini. Berbut baik juga tergantung pada uang. Lalu, jika hal ini terus berlanjut, apa iya suatu saat nanti ketika orang – orang yang berpaham seperti ini meninggal akan memberikan imbalan kepada mereka yang datang melayat? Kini prinsip berbuat baik dan saling menolong sudah mulai luntur dalam kehidupan sehari – hari. Melakukan suatu kebaikan kecil saja yan berhubungan dengan berkurangnya uang seseorang bisa berpikir ratusan kali. Padahal uang yang dikeluarkan untuk kebaikan tersebut tak seberapa. Sedangkan, dalam beberapa kesempatan kadang kita lupa, ratusan, jutaan bahkan milyaran rupiah melayang dengan mudahnya untuk urusan yang berhubungan dengan menolong diri sendiri.
Banyaknya orang miskin di Indonesia bukan hanya salah orang kaya saja dan bukan pula salah para koruptor saja. Bisa jadi, mereka yang miskin masih berpikir ribuan kali untuk memasukkan uang limaratus rupiah ke dalam kotak infaq. Demikian sebaliknya, orang kaya atau sejenisnya masih berpikir jutaan kali untuk menyedekahkan uang seratus ribu rupiah ke panti asuhan. Lalu bagaimana, haruskah saling menyalahkan? Iyaa…. Saling menyalahkan adalah jawaban yang paling tepat jika harus mengintimidasi salah satu pihak dari si miskin atau si kaya. Keduanya berperan mengentaskan kemiskinan di tanah air ini, yaitu kemiskinan pemikiran. Masyarakat yang rajin sedekah adalah masyarakat yang kaya dan tidak pernah kekurangan. Limapuluhribu akan menjadi cukup untuk kebutuhan sehari ketika kita masih bisa menyisakan duaribu untuk kebutuhan orang lain. jika limapuluhribu saja cukup sudah pasti penghasilan di atas limapuluhribu akan amat sangat cukup.
Tidak ada kemiskinan yang disebabkan karena terlalu sering berbagi atau bersedekah. Ketika kita masih terus berpikir dan berpikir untuk membagikan suatu hal yang kecil maka bumi pertiwi ini hanya akan dipenuhi oleh orang yang berpikir tanpa bertindak. Tindakan memang membutuhkan suatu rencana, tapi perubahan kecil lebih membutuhkan perbuatan. Anak jalanan yang lapar tidak mungkin bisa menunggu para borjuis berpikir menghitung berapa kerugian yang diderita jika dia membelikannya makanan.  Kalau harus menunggu, mereka bisa mati satu per satu. Anak – anak yang memiliki trilyunan pemikiran berbeda – beda harus menghentikan ide – idenya itu karena lapar. Mereka ada di sekitar kita dan mereka hanya butuh suatu tindakan, bukan suatu bayangan, karena mereka benar – benar di sekitar kita bukan hanya dalam negeri dongeng.

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking