Bismillah ….
Segala puji bagi Allah, yang melahirkanku
dari rahim seorang Ibu luar biasa, tangguh, cantik, tegar, sabar dan lembut…..
Segala puji bagi Allah yang mengizinkanku menikmati hangatnya cinta dan kasih
sayang bidadari terindah di bumi ini …..
Berjuta lembar kertas tak akan cukup untuk
mengungkapkan rasa bahagiaku karena memiliki beliau ….
Aku jarang bahkan tak pernah melihat
airmata beliau tumpah di hadapanku. Beliau memang pernah bercerita tentang
keluh kesah dan kelelahan padaku, tapi tanpa hiasan airmata sedikitpun. Malahan
aku yang menangis….
Menangis,
karena hanya bisa menjadi penonton,
pendengar, yang tak bisa berbuat apa - apa. Menangis, karena hanya bisa
menghibur namun tak bisa melepaskan kesedihan itu.
Pernah
dalam suatu malam yang sunyi dan penuh cahaya Ilahi, yaitu sepertiga malam
terakhir, aku terbangun mendengar munajat yang indah dari beliau. Belum pernah
sebelumnya aku mendengar dan melihat airmata kesedihan yang sedahsyat itu.
Beliau bermunajat pada Allah yang maha Pemurah. Aku mendengar bisik - bisik
cerita beliau dengan lirih dan menyentuh hati.
“ Ya Allah, berikanlah kekuatan hamba Mu
yang lemah ini, berikan ketegaran, kesabaran dan kemudahan dalam berjalan di
jalan Mu ini. Berikan aku kesehatan agar ragaku senantiasa kuat untuk
melindungi anakku dari bahaya. Mudahkanlah rezekiku agar aku bisa mewujudkan
mimpi anakku. Kuatkanlah imanku agar aku bisa menuntun anak - anakku,
keluargaku ke jalan yang benar agar semakin dekat dengan Mu. Biarkan airmata
ini senantiasa ku simpan dalam tempat yang tak mungkin terlihat oleh mata
manusia Yaa Rabb , agar menjadi mutiara pelebur dosa - dosa yang hamba lakukan
selama ini. Ampunilah hamba ya Allah yang hanya sering bercerita tentang keluh
kesahku ini pada Mu. Aku tak ingin anak - anakku melihat apalagi merasakan
beban ini Ya Allah, maka kuatkanlah … Berikan hamba kesabaran ya Allah ….
Aamiin.. Aamiin … Yaa Rabbal Alamiin.”
Doa beliau memecah keheningan malam. Dan tanpa ku sadari, air mataku mulai menetes
dengan lembut. Kemana saja aku selama
ini? Aku tak pernah tau apalagi memahami apa yang ibu rasakan. Aku tak bisa
meringankan beban yang ada di pundaknya, bahkan mungkin aku hanya semakin memberatkan
beban beliau. Sejak saat itu, atas izin Allah dengan cinta dan kasih sayang
Nya, aku mencoba untuk semakin memahami ibu. Ibu yang luar biasa. Ibu yang tak
pernah menginginkan anaknya menderita.
“When I open my eyes, there is my Ibu has opened her eyes, she is earlier open her eyes to send many
of do’a, for me, herself and all
families”.

Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking