14 Mei 2015

Bangunlah dan Bergerak atau Tidurlah dan Terinjak

Malam, Jumat (14 Mei 2015), pukul 10.01; 

Selama hampir 3 tahun menjadi mahasiswa, baru malam ini rasa gelisah itu benar - benar memuncak. Di hari yang masih dini, kaki ini melangkah dengan santai untuk menuju salah satu tempat makan di Solo. Bertemu dua orang luar biasa yang berperan dalam memberikan pesan positif pada para pemuda pejuang Indonesia yang menyatu di suatu kabinet bernama poros aksi mahasiswa . Satu, dua, tiga, hingga jutaan kata terangkai menjadi satu mengerucutkan suatu tujuan dan harapan bersama. Bukan obrolan berat memang, kalau boleh saya simpulkan yang kami bicarakan hanyalah tentang satu hal; bagaimana agar mereka menjadi leader bukan follower. Sudah... Cukup di pagi yang cerah itu.

Lalu kaki ini kembali melangkah dengan pasti untuk menuju rumah tercinta. Tempat dimana saya dilahirkan dan berproses menjadi pribadi saya yang sekarang. Saya selalu bangga dengan tempat dimana belum banyak pemuda yang tergerak hatinya untuk memikirkan Indonesia. Jangankan Indonesia, memikirkan orang lain disekitarnya saja belum. Dari sini saya tidak pernah menyalahkan mereka, saya hanya mencoba instrospeksi ketika pemuda yang memiliki kesempatan untuk mendapat pendidikan dari mereka tidak memberi pencerdasan, maka apa gunanya. Ketika saya sampaikan pemuda dalam tulisan ini, maka yang saya maksud pula adalah pemudi; putera puteri Indonesia.

Tak lama setelah raga ini merasakan segarnya udara pedesaan, seorang ibu paruh baya datang ke rumah. Dia menceritakan tentang pemuda yang sudah tidak bisa diandalkan lagi. Pemuda yang bisanya hanya kumpul dan merokok. Pemuda yang sekarang lebih suka memikirkan ayam jago daripada memikirkan masa depannya. Yaaa.... Ada virus baru yang menjangkit pemuda - pemuda di daerah saya, penyakit masyarakat yang sebenarnya sudah sempat sembuh dalam beberapa aktu terakhir, ternyata sekarang sudah kambuh lagi, dan saya baru mengetahuinya, Dia melanjutkan keluhannya pada saya, bait demi bait kalimat yang terucap dari mulutnya menunjukkan bahwa dia mengharapkan sesuatu setelah menceritakan keluhannya pada saya. Namun ternyata dia salah, saya hanya diam saja mencerna kata demi kata, mencerna dengan pelan sambil melongo membayangkan apa yang akan terjadi jika virus itu benar - benar menjadi penyakit yang membusuk dalam kepribadian mereka. Cukup untuk cerita dari ibu - ibu yang sedang galau tadi.

Malam hari, melihat banyak sekali kicauan indah dari WA tentang;
1. BBM akan kembali naik pada 15 Mei.
2.Kajian tentang intervensi politik Jokowi - JK oleh kementrian kajian strategis.
3.Seruan turun memperjuangkan kesejahteraan rakyat. 
Dari tiga hal tersebut yang paling menarik perhatian saya adalah poin satu. Saya baru ingat bahwa pagi tadi tarif bis Solo - Wonogiri sudah naik. Harga solar 'dikabarkan' naik namun faktanya di lapangan mereka sudah menaikkan tarif. Entah saya yang unlucky dengan naik bis yang memang mahal atau memang suatu kesengajaan yang dibuat - buat, namun kabar tersebut mau tidak mau sudah menggundahkan rakyat. 

Kemudian sejak detik itu pula saya benar - benar merasa gelisah melihat apa yang terjadi dengan tanah air ini. Tiba - tiba saya rindu dengan beberapa lagu, lalu pecahlah keheningan malam dengan lagu Indonesia Menangis, Indonesia Pusaka, Bagimu Negeri hingga Syukur. Tak ada maksud untuk menaikkan emosi agar saya semakin gelisah. Saya hanya benar - benar rindu lagu - lagu yang diciptakan sebagai penyemangat dan pengingat peristiwa  ini - peristiwa dimana para pahlawan berjuang demi tumpah darah Indonesia. Walaupun akhirnya saya memang semakin gelisah. Adakah terbesit dalam benak para pemuda untuk memikirkan Indonesia, sebagaimana pemuda - pemuda di zaman pergerakan dulu begitu giat memikirkan kesejahteraan rakyatnya. Berjuang dengan mempertaruhkan jiwa dan raganya. Berjuang dengan pikiran, waktu dan harta mereka. Berjuang dengan sepenuh hati untuk satu tujuan yang mulia, tujuan yang muaranya bukan hanya untuk satu orang saja, tetapi untuk banyak orang. Dalam kegelisahan itu pula saya hanya bisa berdoa. Begitu lemah memang, tapi baru itu yang bisa saya lakukan untuk mereka; rakyat yang kebingungan. Belum ada nyali yang utuh dalam jiwa saya untuk 'turun' dalam memperjuangkan raga - raga yang secara tidak langsung juga berjuang untuk kelangsungan hidup saya, dan kehidupan banyak orang. Hanya bisa berdiri, melihat apa yang terjadi, mendengar apa yang dilakukan, merasakan bagaimana 'kuat' nya azam mereka dalam berjuang dan terus berjuang, kemudian menghaturkan doa pada Ilahi untuk kemenangan rakyat Indonesia; rakyat yang sebenar - benarnya rakyat Indonesia. 


Rakyat Indonesia  ......
Maaf karena kaki ini belum bisa ikut merasakan getirnya aspal jalanan sambil terus menyuarakan keadilan, menyuarakan hak kalian, menyuarakan kebenaran kalian.....

Rakyat Indonesia ......
Janganlah bersedih..... ...... karena sebenarnya masih banyak pemuda yang selalu memikirkan keadaanmu dan memperjuangkan nasibmu, walau tidak bisa diingkari masih lebih banyak pemuda yang asyik dengan urusan mereka sendiri, menjelajahi alam kebahagiaan fana tanpa mau mengambil risiko. 

Pemuda  Pemudi Indonesia ..... 
Mari bangun, membuka mata, mencuci muka kita dengan peristiwa - peristiwa yang terjadi di Indonesia ini.
Mari peka dengan banyaknya rakyat Indonesia yang mengharapkan kita bergerak.. Bergerak untu menciptakan perubahan lebih baik pada generasi selanjutnya, bukan bergerak untuk menggerogoti keluhuran nilai bangsamu ini .......
Mari melangkah..... Mari Berjalan ..... Mari Berlari ....... jangan terus menerus tidur, terlelap dalam mimpi fatamorgana yang tak mampu menalar keadaan, kemudian TERINJAK - INJAK dan mati benar - benar tanpa meninggalkan suatu nama atau cerita baik di tanah tempatmu berpijak.
Mari lebih dekat dekat dekat dekat dengan rakyat yang tak pernah lelah memikul beban, menjadi korban keluputan pemimpin - pemimpinnya.


~~ Spend your time to something wise, not only think about how you feel the pain about love or something like that. Wake up the youth, because that is only a little little little bit problems if you see this world, only a top of your nail finger of your body. Indonesian have more complex problems and need you to involved~~


*Ad.51415*


Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking