Bintang adalah teman setia bulan yang setiap malam menghiasi hamparan langit di atas sana. Cahayanya memang tak secerah bulan, apalagi matahari, tapi indah kerlingannya tak bisa disembunyikan. Entah hanya sekecil titk berwarna keemasan atau mungkin segumpal zat yag bersinar sekecil apapun bentuknya, namun cahayanya tetap agung dari mata para penghuni bumi.
Pernahkah berpikir bahwa di bumi juga
ada banyak bintang? Mungkin penduduk langit juga bisa melihat cahayanya dari
sana, namun tak ada yang tau seberapa dahsyat gemerlap sinarnya. Bintang di
dunia tak lepas dari langkah – langkah kecil para pejuang peradaban. Tangan –
tangan mereka tak pernah berhenti mengepal, bukan karena marah atau geram
melihat begitu kejamnya apa yang dilihat, tetapi begitu semangat membuka kedua
mata mereka ke hamparan luas tanpa batas bernama dunia prestasi.
Bintang – bintang itu adalah anak – anak
hebat yang terlahir dari tanah subur ini, tanah air tercinta, bernama
Indonesia. Mereka tersebar luas, dari pelosok negeri hingga tengah – tengah kota.
Dari tengah – tengah kota hingga pinggiran garis kekuasaan, dan salah satunya
berada di kota kecil bernama Solo, dan lebih kecil lagi yaitu di sebuah kota di
timur Solo, bernama Sanggrahan. Anak – anak yang masih wajar adanya tanpa beban
dan pikiran, tapi sebenarnya dipundak mereka ada tanggung jawab yang mau tidak
mau harus dipikul dengan rasa bangga dan optimis. Tanggung jawab itu adalah
menjadi pemimpin Indonesia di era Indonesia bermartabat, suatu hari nanti.
Narasi yang cukup menarik untuk
menggambarkan kehebatan anak – anak Indonesia di bumi pertiwi ini. Tidak ada
cerita yang lebih menarik dari semangat seorang anak. Masa dimana hidup, mati,
berkembang dan tidak berkembangnya sel otak ditentukan. Sadar atau tidak mereka
akan cenderung lebih aktif di masa ini, dan itu normal. Seperti suasana yang
terbangun dalam Sanggrahan Study Club di salah satu SD di Sanggrahan Surakarta
sore ini, 10 September 2014. Siswa kelas 4, 5 dan 6 SD yang begitu semangat
mengikuti les tambahan yang diselenggarakan oleh kementrian social kemahasiswaan
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNS. Biasanya kegiatan rutinnya adalah
pembinaan belajar matematika, tapi kali ada yang beda. Saatnya bermain dengan
angka, mengotak – atik pikiran, mengisi semangat, mengaktifkan senyum dan
membulatkan konsentrasi. Game yang
berisi soal – soal matematika diikuti mereka dengan riang. Pertama, hal yang
dilakukan adalah membuat kelompok lengkap dengan namanya. Mereka terbagi
menjadi tiga kelompok yaitu Gatotkaca, Sadewa dan Arjuna. Nama wayang dipilih dengan
tujuan agar mereka mengingat kembali bahwa wayang adalah salah satu budaya asli
Jawa Tengah, asli Indonesia. Anak kecil memang tidak bisa lepas dari gurauan –
gurauan asyik dan kadang ‘nakal’, tapi itulah mereka. ‘Nakal’ tak berarti
jelek, dalam kelas ini kenakalan mereka malah menjadi bahan dakwah untuk
membentuk karakter mereka. Jika salah satu anak tidak bermain game sesuai
aturan atau usil dalam permainan, mereka akan mendapatkan sanksi pendidikan dan
sangsi pengurangan skor. Dengan begitu, mereka akan tau bahwa dalam belajar
kita memang harus jujur, disiplin dan sungguh – sungguh, tanpa hal tersebut
maka akibatnya akan ditanggung sendiri.
Dari pertanyaan matematika hingga pertanyaan bahasa
inggris, sejarah dan beberapa tentang lagu – lagu nasional mengisi 60 menit
pertemuan di kelas sederhana itu. Mungkin tidak ada yang special disana, tapi
bagi siapapun yang menyertakan cita – cita dalam jiwanya dia akan mengerti
bahwa wajah – wajah mereka adalah orang – orang yang akan mengisi kursi – kursi
keadilan dan kejujuran di Indonesia ini nantinya. Optimis itu beda dengan tidak
realistis, dan pesimis itu bukanlah realistis. Mereka memang hanya anak – anak biasa
yang setiap harinya berkutat dengan debu dan kotoran. Tetapi debu dan kotoran
itu tidak menutupi mata hatinya. Mereka tau Indonesia ini masih memiliki
harapan besar untuk menjadi bangsa yang bermartabat dan terbebas dari semua
pencuri – pencuri bermuka pahlawan. Tawa dan candanya tidak bisa mengalahkan
kegetiran bangsa ini yang mungkin sudah lelah dengan cercaan orang – orang di
luar sana. Bukan hanya di luar sana, bahkan bangsa ini mendapatkan tamparan
dari anaknya sendiri. Haruskah negeri tetangga berhenti menertawakan bangsa ini
sedangkan keturunannya saja masih tersenyum bangga melecehkan tanah tumpah
darahnya. Hati mereka yang masih murni akan selalu dicuci oleh pemuda – pemudi penyangga
langit Indonesia dengan untaian semangat dan optimisme yang tinggi. Mereka adalah
bintang yang sedang dipupuk oleh penjaganya yang akan selalu menemaninya hingga
cerah dan bersinar nantinya. ~Aldew~
Marking Site
Sanggrahan Study Club (SSC) adalah suatu kelompok
belajar yang dibentuk di SD Sanggrahan, Kentingan, Surakarta. Kegiatannya berupa
les tambahan matematika, kegiatan pramuka dan marching band. SSC ini rutin
diadakan setiap minggunya, dengan kata lain SSC ini bisa juga dikatakan
ekstrakulikuker tetapi yang menyelanggarakan adalah pihak luar yaitu BEM UNS. Tidak
semua kakak pengajar berasal dari pengurus BEM. Untuk Pramuka dan Marching Band
sendiri, pengurus bekerjasama dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Marching Band
dan UKM Paramuka UNS. Event – event semi besar seperti buka bersama, nonton
bareng, pesantren kilat dan lomba – lomba juga pernah diselenggarakan. Walaupun
teknis pelaksanaan masih terbilang sederhana dan ala kadarnya, tetapi tak
berarti agenda ini adalah agenda ecek – ecek. Tujuannya jelas yaitu mengisi
waktu di luar sekolah mereka dengan kegiatan yang positif. Daripada bergabung
dan bermain dengan orang dewasa yang berisiko untuk terkontaminasi kata – kata tidak
baik dan perilaku yang belum pada waktunya lebih baik mereka melakukan kegiatan
‘apapun’ yang positif di lingkungan sekolah. Harapannya agenda ini akan selalu
berkelanjutan setiap tahunnya. Jadi akan ada tunas – tunas baru yang tetap
melanjutkan estafet kebermanfaatan ini. Disini semuanya diuntungkan, penyelenggara
yaitu mahasiswa UNS mendapatkan keuntungan berupa aktivitas positif yang
bermanfaat dan anak – anak mendapat keuntungan belajar gratis, bermain bersama
dan pastinya berbagi cerita dan InsyaAllah rezeki. Indonesia ini tidak miskin
pemuda, jika gagasan ini segera diikuti oleh pemuda – pemuda di Indonesia
dimanapun berada maka akan banyak study – study club yang akan memberantas
kebodohan di bumi tercinta ini. Suatu saat nanti mungkin SSC akan berubah
menjadi ISC, Indonesian Studty Club, yang akan menghubungkan milyaran study club
yang ada di Indonesia ini. Indonesia butuh keringat orang – orang yang lelah
dengan kegelisahan dan kegalauan, bukan air mata orang – orang yang lelah
karena galau dan gelisah tiada guna. Air mata orang Indonesia terlalu berharga
jika hanya untuk menangisi kemiskinan, karena Indonesia itu kaya, begitu juga
orang - orangnya….. Jika kamu sudah mau bergerak untuk ambil bagian membangun
Indonesia yang lebih baik, maka kamu akan membuktikan sendiri bahwa tidak ada
alasan untuk mengatakan bahwa Indonesia dan orang – orangnya adalah miskin,pendapat itu
adalah SALAH BESAR!