search

11 Augustus 2014

‘Peran Ganda’ dalam Keluarga Bukanlah Pilihan




“Sendiri bukan berarti lemah dan berdua tidak pula kuat, karena berdua tak berarti apa – apa jika sendiri – sendiri, yang menjadikanmu lebih kuat adalah berdua dan bersama”
Single parent, sebutan untuk seorang perempuan atau laki – laki yang mengasuh anaknya sendiri, entah karena pasangan hidupnya meninggal dunia, meninggalkan karena lari dari tanggung jawab atau mungkin meninggalkan karena sudah bercerai. Satu decade terakhir khalayak bisa jadi mulai kecewa dengan public figure yang semakin gencar mempublikasikan ketegaran mereka menjadi seorang single parent dan mulai menjadi tren, bahkan kebanggaan. Fenomena tersebut jelas disaksikan masyarakat dalam kesehariannya dimana seorang ayah berperan pula sebagai ibu dengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Demikian pula sebaliknya, seorang ibu berperan sebagai ayah, yaitu mencari nafkah, memperbaiki rumah bahkan angkat junjung mengerjakan pekerjaan laki – laki. Ironis memang, sempat berpikir keras ketika melewati sebuah gedung yang baru dibangun. Disana kuli bangunan yang bekerja nyaris semuanya perempuan. Dengan baju lengan panjang, lengkap dengan sarung tangan, celana panjang, sepatu boots dan caping. Pikiran yang berlarian dalam otak saya ketika itu adalah dimanan suaminya, apa tidak bekerja, apa sudah meninggal, apa tidak bertanggungjawab, apa dia memang ingin bekerja, apa a, apa b, apa c dan apa – apa yang lain hingga tak sadar saya terlarut dalam suasana haru. Bukankah dia diciptakan dari tulang rusuk laki – laki? Memang perempuan bukan makhluk yang lemah, tapi bagaimanapun, tenaga mereka tidak sekuat laki – laki, itu sudah fitrah.
Di tempat lain, ada pula kisah seorang suami yang bekerja banting tulang untuk mencukupi keluarganya. Sang istripun mendukung untuk selalu membelanjakan apa yang telah dinafkahkan suaminya, yaitu membelanjakan apa yang diberi suaminya….. untuk ke salon dan berbelanja. Bahkan beberapa kali anaknya kelaparan karena ibunya lupa memberinya makan. Yang seperti ini, apa disebut single parent juga? Tidak masalah sebenarnya bagi seorang istri yang tidak bekerja, tapi masalahnya disini adalah tidak bekerja dan tidak mengurusi pekerjaan rumah, termasuk anaknya. Atau mungkin sebaliknya, seorang istri yang bekerja mati – matian untuk keluarganya, sedangkan sang suami hanya di rumah tanpa ada usaha apa – apa. Yang saya bicarakan adalah seorang suami yang masih dalam keadaan sehat dan pada dasarnya masih mampu untuk berupaya dalam menafkahi isterinya. Sulit untuk mengatakan double parent karena kenyataannya yang bekerja hanyalah satu orang saja, yaitu ibu seorang perempuan. Setau saya tulang rusuk lebih rapuh lalu mengapa harus berperan menjadi tulang punggung.
Di belahan bumi lainnya malah lebih dramatis dan kejam. Seorang ayah tiga anak dan satu istri dengan kehidupan yang cukup baik malah meninggalkan istrinya tanpa pamit dengan alasan lelah dengan pertengkaran. Tanpa mengucap cerai, pisah atau sebangsanya, sang suami hanya pergi asal – asalan entah kemana dan hingga sekian tahun berjalan masih belum kembali dan tak jelas keberadaannya. Saya tidak pernah mempermasalahkan kepergiannya karena sebagai orang lain, saya tutup telinga dengan perkara apa yang terjadi dalam rumah tangganya, menurut saya itu aib jadi sudah benar jika antara dia dan istrinya saling menutupi. Yang saya permasalahkan adalah tanggung jawabnya sebagai ayah atas ketiga anaknya, apapun alasannya, saya tidak akan pernah membenarkan apa yang dilakukannya. Bukankah dia yang harusnya bertanggungjawab atas makhluk tanpa dosa yang dengan perantaranya mereka dilahirkan di dunia ini?
Saya tidak mengadili satu pihak disini. Dimanapun dan siapapun ketika mereka sudah dipertemukan pasti tidak ingin untuk dipisahkan kecuali maut, pun saat mereka mengikrarkan janji suci atas nama Tuhan, pasti pula tak menginginkan adanya perceraian. Ayah tak mungkin ingin meninggalkan anaknya dalam keadaan apapun, juga seorang ibu yang pasti akan selalu memberikan yang terbak dari yang terbaik untuk anaknya. Hal yang tidak bisa saya terima disini adalah dimana letak tanggung jawab dan penepatan janji akan kesepakatan yang telah dibuat di hadapan Allah SWT. Apakah pernikahan yang dijalankan tidak didasarkan pada apa yang telah diatur oleh Allah, kemudian diterapkan oleh Rasulullah? Wallahualam.. Saya sendiri saat ini hanya bisa menjadi pengamat dan penilai. Hingga suatu saat nanti saya hanya ingin menjadi seorang yang dapat menginspirasi orang lain, bahwa rumah tangga bukanlah ajang untuk coba – coba jadi tidak ada alasan untuk menangis hanya karena terkena jarum, jatuh hanya karena tersandung kerikil ataupun sakit hanya karena gigitan nyamuk. Peran ganda dalam keluarga memang bukan suatu pilihan, tetapi kewajiban. Seorang suami suatu saat harus bisa berperan menjadi seorang istri, saat sang istri sakit misalnya, tapi hanya dalam waktu tertentu, bukan untuk selamanya. Seorang istri juga harus multi talenta, ketika ada pekerjaan suami yang belum terselesaikan dan mampu diselesaikan seorang isteri, itu sah saja, tapi tidak untuk dibebankan pada isteri. Allah Maha Adil, Dia telah memberikan kelebihan dan kekurangan masing – masing pada laki – laki dan perempuan.
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Qs. An Nisaa’ : 34)

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking