
“Uang hanyalah material untuk menunjang suatu bangunan kehidupan,bukan fondasi atau tiang untuk kokohnya suatu bangunan yang tanpanya hidupmu akan hancur dan tak berguna”
Tidak bisa dipungkiri memang bahwa barang yang memiliki nilai dalam
interaksi social khususnya bidang ekonomi ini begitu penting keberadaannya.
Saking pntingnya beberapa orang bahkan melakukan segala cara untuk
mendapatkannya. Memang hanya lembaran kertas, tapi nilai di dalamnya sangat
dibutuhkan umat manusia. Munafik rasanya jika seseorang mengatakan dia tidak
membutuhkan uang. Tidak ada yang salah dalam kalimat tersebut, hanya saja
penggunaan mudah akan merepresentasikan bahwa orang tersebut tidak peduli
dengan keberlangsungan hidupnya. Menyerah, pasrah atau mungkin telah lelah
karena tidak pernah memiliki uang dan bisa jadi karena selalu berurusan dengan
uang. Kalimat yang kurang bijak tetapi akan lebih baik jika mengatakan bahwa
‘seseorang tidak hanya membutuhkan uang’.
Uang bukanlah segalanya yang bisa mengubah rasa benci menjadi cinta, abu
menjadi emas, empedu menjadi gula atau air garam menjadi air susu. Esensi
adalah alat atau media untuk melakukan transaksi jual beli, bukan transaksi
identitas, etika, agama, moral atau hati nurani.
Tidak sedikit orang yang menggadaikan harga diri agar bisa
mendapatkannya, walau hanya dalam sekejap dan segera menjadi milik orang lain.
Bagaimana tidak? Uang yang kita miliki hanya ‘mampir’ saja mengisi kantong,
dompet, tas atau rekening kita. Diantara mereka juga ada yang rela bertaruh
nyawa, menyalahi aturan, saling membunuh atau merampas hak orang lain. beberapa
yang lain berdalih bahwa tanpa uang mereka tidak akan hidup. Pemahaman apa
sebenarnya yang sedang ada di benak manusia – manusia masa kini. Berbut baik juga
tergantung pada uang. Lalu, jika hal ini terus berlanjut, apa iya suatu saat
nanti ketika orang – orang yang berpaham seperti ini meninggal akan memberikan
imbalan kepada mereka yang datang melayat? Kini prinsip berbuat baik dan saling
menolong sudah mulai luntur dalam kehidupan sehari – hari. Melakukan suatu
kebaikan kecil saja yan berhubungan dengan berkurangnya uang seseorang bisa
berpikir ratusan kali. Padahal uang yang dikeluarkan untuk kebaikan tersebut
tak seberapa. Sedangkan, dalam beberapa kesempatan kadang kita lupa, ratusan,
jutaan bahkan milyaran rupiah melayang dengan mudahnya untuk urusan yang
berhubungan dengan menolong diri sendiri.
Banyaknya orang miskin di Indonesia bukan hanya salah orang kaya saja dan
bukan pula salah para koruptor saja. Bisa jadi, mereka yang miskin masih
berpikir ribuan kali untuk memasukkan uang limaratus rupiah ke dalam kotak
infaq. Demikian sebaliknya, orang kaya atau sejenisnya masih berpikir jutaan
kali untuk menyedekahkan uang seratus ribu rupiah ke panti asuhan. Lalu
bagaimana, haruskah saling menyalahkan? Iyaa…. Saling menyalahkan adalah
jawaban yang paling tepat jika harus mengintimidasi salah satu pihak dari si
miskin atau si kaya. Keduanya berperan mengentaskan kemiskinan di tanah air
ini, yaitu kemiskinan pemikiran. Masyarakat yang rajin sedekah adalah
masyarakat yang kaya dan tidak pernah kekurangan. Limapuluhribu akan menjadi
cukup untuk kebutuhan sehari ketika kita masih bisa menyisakan duaribu untuk
kebutuhan orang lain. jika limapuluhribu saja cukup sudah pasti penghasilan di
atas limapuluhribu akan amat sangat cukup.
Tidak ada kemiskinan yang disebabkan karena terlalu sering berbagi atau
bersedekah. Ketika kita masih terus berpikir dan berpikir untuk membagikan
suatu hal yang kecil maka bumi pertiwi ini hanya akan dipenuhi oleh orang yang
berpikir tanpa bertindak. Tindakan memang membutuhkan suatu rencana, tapi
perubahan kecil lebih membutuhkan perbuatan. Anak jalanan yang lapar tidak
mungkin bisa menunggu para borjuis berpikir menghitung berapa kerugian yang
diderita jika dia membelikannya makanan.
Kalau harus menunggu, mereka bisa mati satu per satu. Anak – anak yang
memiliki trilyunan pemikiran berbeda – beda harus menghentikan ide – idenya itu
karena lapar. Mereka ada di sekitar kita dan mereka hanya butuh suatu tindakan,
bukan suatu bayangan, karena mereka benar – benar di sekitar kita bukan hanya
dalam negeri dongeng.
