Satu- satunya kata yang bisa membuat hatiku langsung remuk redam adalah 'kecewa'. Sepertinya kalimatku terdengar hiperbola, tapi 'ASLI' kata yang terdiri dari 3 suku kata ini memang ampuh. Yaa.... Kata ini seketika mampu melumpuhkan saraf positif yang ada dalam tubuhku, mengubah tawa menjadi tangis, membungkus senyuman dengan wajah masam dan membekukan hati yang sedang meleleh. Ibaratnya, seketika aku akan membuang jauh rasa cintaku saat aku teringat dengan rasa kecewa yang pernah kualami. Jika diceritakan dari start hingga finish, aku yakin besok pagi - pagi mata ini akan membengkak dengan pembesaran minimal 3X. Sekilas saja tentang kecewa itu sendiri. Tak ada seorangpun di dunia ini yang tidak mengenal kata kecewa, at least hanya mengenal saja dan belum pernah mengalami. I think great when it's happened. Rasa kecewa ini terpendam sejak bertahun - tahun yang lalu. Selama 19tahun aku bernafas di bumi ini sekitar 10 tahun yang terlewati aku gunakan untuk memendam rasa kecewa. Nggak berarti hidupku 19 tahun yang lalu itu nggak berguna dan cuma dipake buat mikirin rasa kecewa, tapi di sela - sela waktuku yang sepanjang itu aku masih belum bisa menanggalkan kekeceaan - kekecewaan yang pernah aku alami. Hingga saat ini aku mengetikhuruf demi huruf dalam kolom 'entri' aku sedang merasakan kembali rasa kecewa itu. Aku bersyukur Allah selalu membimbingku untuk tetap berada pada jalan yang benar, walaupun sempat beberapa kali (nggak banyak) aku membelokkan ke arah yang berlawanan dengan arus kebaikan. Aku nggak mau dan nggak akan pernah mau membayangkan apa yang terjadi padaku jika aku tak pernah membawa Allah dalam menyikapi kekecewaanku ini. Aku menggolongkan kecewa termasuk dalam salah satu penyakit hati (menurut saya) karena efek samping dari kecewa sangatlah kompleks, antara lain: rasa benci, takut, dendam, iri dan duka yang berlarut - larut. Bukan hanya penyakit hati malaha, namun juga penyakit jasmani. Petanyaanku enam bulan belakangan terjawab sekitar sebulan yang lalu. Semester ini (baca:4), selama 5 bulan terhitung aku sudah sakit (fisik) 3 kali berat dan 6 kali sakit ringan. Saya bukannya bangga sakit - sakitan terus cuma heran aja kalau sakit - sakitan terus gimana kerjaan bisa selesai tepat pada waktunya? Lalu sebulan lalu, tiba - tiba aku teringat dengan daftar peristiwa yang membuatku kecewa. Aku tidak menulisnya seperti daftar target hidup kok, karena tanpa ditulis pun sudah terekam jelas dalam memoriku. Ketika itu juga aku nangis menjadi hingga susah bernafas dan terus - menerus istighfar karena benar - benar nggak bisa nafas. Setelah meangis sejadi - jadinya aku lalu tidur dengan pulas dan pasrah jikalau Allah sudah akan memanggilku untuk menghadap - Nya (not really ready actually). Keesokan harinya bersiap - siap untuk kuliah dan 'sok' bersikap semangat sebagaimana mestinya. Di hari itu pula aku sakit. Badanku lemas, pusing, panas dan mataku selalu berkaca - kaca. Aku nggak tau secara ilmu kejiwaan atau kesehatan, mungkin sakitku itu adalah efek karena kelamaan nangis. Tapi aku mengambil kesimpulan bahwa sakitku itu disebabkan karena penyakit hati yang tidak segera disembuhkan.
"Tidak ada seorangpun yang ingin dikecewakan dan mengecewakan, kalaupun ada yang menginginkannya itu karena dia tak ada pilihan lain"
Hanya itu kata yang sedikit meringankan rasa kecewa ini. Suatu saat nanti aku pasti bisa menceritakan cerita - cerita bahagiaku pada Allah, bukan cerita - cerita penuh rasa kecewa. Hanya kepada Allahlah aku bergantung ~~~~~~~~ a.d.
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking