31 Maart 2014

Mengapa Aku Bersedih?





“Buatlah dunia mengenalmu sebagai seorang yang selalu terlihat bahagia dan senantiasa menebar senyuman, bukan seorang pesakitan yang lemah dan tak berdaya”
             Apa itu masalah dan apa itu ujian? Beberapa orang sempat bertanya demikian. Dua pertanyaan tersebut mungkin tak saling berhubungan. Biasanya yang ditanyakan orang – orang adalah apakah ini ujian atau hukuman (azab)? Tapi ini berbeda karena mereka yang menanyakan pertanyaan ini adalah insan – insan beriman yang selalu optimis dalam menghadapi hidup. Sering kita dengar bukan bahwa orang beriman selalu akan menganggap sebuah musibah atau masalah adalah ujian atau cobaan untuk menguji keimanan hamba – hamba Nya, apakah hamba Nya ‘sucess’ atau ‘remedy’ atau ‘quit’.
            Satu dari milyaran kisah yang dapat menghibur jiwa – jiwa yang sedang sedih hatinya. Sekitar 4 tahun lalu, seorang ibu, panggil saja bu Mawar kehilangan seorang anak perempuannya yang sebentar lagi (bulan depan) akan ujian skripsi. Dia mengalami kecelakaan bersama kakak laki – lakinya. Setelah selesai prosesi pemakaman bu Mawar lantas ke rumah sakit untuk merawat anak laki – lakinya. Allahu akbar, balutan perban membungkus seluruh tubuh anaknya, yang terlihat hanyalah wajahnya. Dalam kondisi seperti itu, bu Mawar masih sempat mengatakan “Alhamdulillahirobbil’alamin, terimakasih ya Allah.”
Seorang ibu yang melihat anaknya kesakitan di atas ‘kasur’ rumah sakit apakah suatu yang membuatnya bahagia? Pasti tidak. Tapi dia paham bahwa Allah begitu menyayangi keluarganya. “Laa tahzan, Inallaha ma’ana”. Allah tidak akan meninggalkan hamba – hamba Nya yang tulus mencintai Nya. Kejadian tersebut bukanlah sesuatu yang membuat dunianya runtuh, walaupun memang tidak mudah untuk bertahan dan terus berjalan melanjutkan langkah hingga tetes darah penghabisan.
Bagaimana dengan kita? Pacaran putus langsung nangis, bingung terus gulung – gulung di pasir. Ditinggal nikah nggak mau makan berminggu – minggu. Banyak tugas kuliah malah bakar – bakar buku pelajaran, banting laptop, begitukah? (senyum=iya) Bangun yuk, kita buka mata dan buka pikiran lebih luas. Lihatlah mereka yang terlunta – lunta di jalanan, yang di bakar di Afrika atau yang masih sering diusik di Gaza, aduh, nggak kuat kalau disebutin lebih banyaklagi. Tangisan mereka tak bisa menyelesaikan permasalahan.
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S.Alam Nasyrah 5-6)
Janji Allah itu sudah pasti bukan? Allah sudah menjanjikan bahwa kemudahan itu pasti akan datang. Allah juga tidak akan memberikan cobaan yang lebih dari kemampuan hamba Nya. Hidup sudah ada waktunya dan hidup sudah ada skenarionya. Tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya, kecuali kita sudah mengaku kalah sebelum masalah itu berakhir. There is only a choice, survive for going on. (Althifu Dewika)