Aroma
embun pagi ini telah menyebarkan energi positif ke seluruh tubuhku. Mata ini
tak bisa berdusta melihat keagungan cipta Nya yang sedang merah jingga dan
terlihat malu untuk menampakkan cantiknya. Sang Surya mulai tersenyum menyapa
insan – insan beruntung yang ada di bumi timur. Subhanallah, rasa takjub luar
biasa yang sama sekali tak mampu kuungkapkan dengan kata - kata. Langit Solo
menyampaikan salam hangat dan dukungannya, untuk angan, mimpi dan cita –
citaku. Dia melihat senyumanku merekah sejak burung – burung kutilang mulai
berlari kesana – kemari membawa ocehan kebahagiaan pada sahabat – sahabat
mereka. Bagaimana bisa? Yaaa... Aku bisa belajar dari ciptaan Allah yang tiada
kekurangan sedikitpun pada mereka.
Aku
mulai bangkit dari keterdimanku dalam mengamati kebesaran Nya.
“Bangun yuk bangun, katanya mau metik
stroberi?” teriakku halus sambil berjalan melalui deretan kamar yang pintu –
pintunya masih tertutup rapat.
“Hoawm!”
“Emhh...” “Apaan?”
“Ini
sudah siang,” tambahku.
“Udah
subuh kok tadi,” balas seorang perempuan berpipi tembem sambil membuka pintu
dan mengucek kedua matanya.
“Jadi
main?”tanyaku.
“Jadi
donk, kebun stroberi!!!”teriaknya heboh, “Hey, yuk bangun yuuuukkk....
Tawangmangu Tawangmangu!!!”ia kembali berteriak dengan mulut yang terbuka lebih
lebar dan baunya mencemari hidungku.
“Hop!”aku
menutup mulutnya dengan telapak tangan, “pencemaran udara.”
“Hee...”
dia hanya melengeh.[1]
Lima
perempuan dengan wajah yang nggak karu – karuan kangsung gelagapan mencari
kamar mandi untuk mencuci muka mereka.
“Aku
dulu yang mandi!” “Aku!!” “Aku!!” bukan sesuatu yang baru memang, ketika mereka
bangun bersamaan maka suasana tenang, damai, tenteram, syahdu, romantis,
eksotis dan menyejukkan menjadi acakadul[2]
nggak karuan. Aku yang sudah cantik dan wangi (ngeksis J) sejak subuh tadi tinggal wudhu dan duha deh.
“Ready....!!!”
“Siaaap!!!” “Berangkat!!!” sekitar seratus menit kemudian mereka
mendeklarasikan diri bahwa sudah siap untuk mengadakan unforgettable journey
bersamaku. After this journey, Pantai Nampu dan Sembukan[3]
yang eksotis dengan pasir putihnya menjadi destinasi selanjutnya.
Rencana awal berangkat maksimal jam setengah
delapan, keyataannya, “Nik, jam berapa?” tanyaku.
“Jarum panjang di angka enam,” jawabnya sambil
tersenyum menatap mataku. “Jarum pendek!” tambahku.
“Delapan!!”
teriak April sambil menepuk pundakku.
“Sekali
– kali molor nggak papa kan Re, ya?” tambah Triska sambil menggunakan bando di
rambutnya.
“Sekali
– kali, tapi lama – lama jadi bu-da-ya!” tegasku.
“Maaf
yaaa.....” lima orang teman kosku tiba – tiba menjadi grup paduan suara.
“Yaudah
yuk berangka!”
Enam
orang hawa yang sudah rapih dengan persiapan
super lengkap berjalan ke garasi dan mengeluarkan tiga buah motor imut.
Aku bersama Apri, Triska bersama Arinda, dan Keyla si pipi tembem bersama
Dwika.
“Grojogan
Sewu[4]!!!!!”
teriakan mereka kembali membuat gendang telingaku bergetar hebat.
“Bismillah
dulu muslimah,” ungkapku lembut.
“Siap
Buuuuu,” jawab mereka serentak.
“Kamu
pake rok Re?” tanya Apri.
“Iya,
kenapa?” jawabku halus.
“Aku
nggak bisa boncengin.”
“Aku
punya caranya, kamu nggak usah khawatir.” Rokku terdesain lebar dan
multifungsi, bisa berfungsi sebagai rok dan celana, jadi perjalanan kami tetap
berlanjut dan aku tetap menggunakan rok favoritku.
Di
perjalanan Triska dan Arinda mendahuluiku dan mendahuluiku. Rambut mereka
berkibar dengan bebasnya. Sayang sekali, debu – debu jalanan banyak yang
menempel padahal rambut mereka begitu indah. Sesekali aku mengamati orang –
orang yang berada di jalanan, lalu aku kembali fokus melihat kedepan.
“Astaghfirullah!!!
Triska!!” aku berteriak ketika Triska memaksimalkan gasnya untuk mendahului
mobil, sedang di depannya ada motor yang akan menyeberang. Triska mengarahkan
stangnya ke kanan hingga berada di lajur jalan yang berkebalikan.
“Thin
Thiiin!!!” mobil berwarna kuning dari arah yang berbeda mengklakson dengan
kerasnya.
“Subhanallah
Walhamdulillah Wasyukurilah, Kau masih memberi kesempatan dua sahabatku itu
untuk menyempurnakan diri sebagai seorang muslimah ya Allah,”bisikku. Aku lalu
mengelus dada dan menenangkan jantungku.
Perjalanan
berlanjut dengan lantunan do’a dan pujian yang tak bisa lepas dari hatiku.
Sungguh, aku begitu takut dengan akhir waktu yang menjadi rahasia Allah. Tak
seharusnya aku menunggu – nunggu waktu yang tepat untuk berubah dan memperbaiki.
Sudah seharusnya aku berubah dan memperbaiki diri sekarang. Dari kejadian tadi
aku sadar bahwa waktu tak bisa menunggu, tak bisa menanti dan tak bisa menunda
akhir hidup seseorang. Jika waktu merekasudah habis, pstilah tadi dua tmanku
itu akan...... sudahlah, mataku malah berkaca – kaca.
Hawa
dingin Tawangmangu sudah mulai merasuk kulit paling luarku dan semakin menusuk
hingga tulang rusukku.
“Subhanallah,
hawanya beda sekali ya....”
“Iyaa,
Subhanallah, kita sudah sampai,” tambah April.
Kami
memakirkan motor dan menitipkan helm, lalu berjalan menyusuri ribuan turunan
anak tangga untuk menuju Grojogan Sewu.
“Kamu
nggak susah jalannya?”
“Nggak
donk, ada triknya,” jawabku.
“Lelah
ya,”sambung Triska.
“Jangan
mengeluh,”jawab Dwika.
Keringat bercucuran dari badanku begitu juga
lima temanku. Suara air Grojogan Sewu sudah mulai terdengar, itu artinya kami
hampir sampai. Ratusan kera yang mengetahui kedatangan kami mulai turun dan
mendekat. Aku teriak – teriak nggak karuan lalu mencoba berani dan memandangi
mereka satu per satu.
“Subhanallah,” aku kembali takjub. Mereka
datang bersama – sama untuk mencaritau apa kami membawa makanan, mereka mencari
makanan, dan makanan itu tak dihabiskan sendiri, melainkan dibagi dengan kera –
kera yang lain. Luar biasa, Allah begitu sempurna menciptakan semua ini.
Satu ketakjuban lagi, tegapnya Grojogan Sewu
sudah berada tepat di depan mataku, “Allahuakbar,” aku mulai merasakan dingin
aliran airnya.
“Ayo
mendekat,” panggil Triska membuyarkan ketermenunganku. Aku melangkah dengan
hati – hati sambil tak berhenti mengucapkan pujian atas kekuatan Sang Maha
Cinta yang tiada duanya. Di pinggir alirannya aku membaca surat cinta Allah
yang menambah ketentraman hati ini. Suaraku berpadu dengan harmoni syahdu suara
darinya. Mulutku tak bisa berhenti untuk tersenyum dan tersenyum.
“Re,
jilbabmu nanti basah.”
“Nggak,
aku punya strateginya. Hey, jilbab itu bukan alasan untuk diam kayak gitu, sini
main – main bareng aku.”
“Licin,
nanti basah, betulinnya gimana?”
“Rugi
lho, kita harus punya strategi. Allah ingin kita merasakan Agung ciptaan – Nya,
Allah ingin memanjakan mata ini.”
“Okke,
habis ini beneran yang ngajak kita ke Pantai?”
“Pasti,
jangan khawatir petualangan kita akan terus berlanjut. Besok – besok kamu pake
jilbab yaa, biar rambutnya nggak dikotori debu – debu dari mata – mata yang tak
halal.”
“InsyaAllah,”
jawab Triska dan Arinda bersamaan.
Kami melanjutkan
langkah menuju kebun stroberi yang siap panen. Tak berlama – lama tangan ini
dengan gesitnya mengambil gunting, lalu memetik buah – buahan yang disediakan
Allah untuk kunikmati dan kusyukuri. Foto – foto, bercanda, dan bersama – sama
membaca do’a sebagai obat penawar rindu akan cinta – Nya.
Tidak ada yang sia – sia dari apa yang
diciptakan Allah. Kita pun juga bisa membuat aktivitas kita tidak sia – sia. Semua
itu bisa menjadi amal ibadah atau amal keburukan Tergantung niatnya, aku memilih
untuk menjadikan aktivitasku sebagai amalan ibadah, termasuk di setiap
perjalananku menelusuri rahasia – rahasia alam yang masih tersembunyi. Di setiap
petualanganku, mengukir jejak – jejak penuh sejarah untuk menjaga apa yang
diamanahkan Allah pada anak cucu Adam di bumi ini, ada dua hal yang tak pernah
kulupakan, yaitu senantiasa mengingat Allah dan tetap teguh pada identitasku
sebagai seorang muslimah yang akan selalu memperbaiki diri dan menyempurnakan
apa yang seharusnya disempurnakan.
“Jangan menunggu – nunggu waktu yang tepat
untuk berubah dan memperbaiki, tapi berubahlah
dan perbaikilah sekarang, karena waktu tak bisa menunggu, tak bisa
menanti dan tak bisa menunda akhir hidupmu” (Althifu Dewika)
[4] Grojogan Sewu adalah
objek wisata berupa air terjun yang dikelilingi gunung dengan pepohonan asri
yang ada di daerah Tawangmangu, Karang Anyar, Jawa Tengah. Untuk mencapainya
kita harus menuruni ribuan anak tangga.
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking