Masih ingat beberapa tahun yang lalu ketika aku benar - benar gila dengan music dan bernyanyi. Tidak ada satu hari pun yang kulewatkan dengan musik. Pernah kubayangkan suatu saat nanti aku bernanyi di hadapan ratusan, ribuan, bahkan jutaan pasang mata di dunia, dan semua orang bertepuk tangan dengan riuhnya, dan ada lima orang di hadapanku yang tepuk tangannya paling terdengar di telingaku. Diantara gemuruhnya jutaan tangan yang berirama satu dengan lainnya, tepuk tangan merekalah yang paling merdu dan membuat ribuat semut yang menggigit lembutnya kulitku tiba - tiba hilang dan lenyap entah kemana.
Masih ingat juga ketika Christina Aguilera, Birthney Spears, Agnes Monica, dan Rossa menyanyi dengan indahnya di televisi, dan aku hanya tersenyum simpul sambil terdiam sejenak. Apakah suatu saat nanti aku bisa seperti mereka? Suaraku akan menjadi ramuan positif penyejuk hati - hati yang terbakar api negatif. Laguku menjadi pelipur lara dan penghapus air mata kecewa insan - insan yang telah mati dalam kegalauan. Bait - bait lirik laguku menjadi salam cinta dan kasih sayang untuk jiwa - jiwa yang bergundah gulana.
Namun, sekali lagi semua itu hanya dalam ingatanku saja. Tak kumengerti juga, sejak beberapa waktu lalu tiba - tiba aku ragu - ragu dengan semua mimpiku itu. Saat banyak peluang untuk mencapai mimpik - mimpiku itu terbuka lebar selebar - lebarnya di depan mataku. Saat semua tenagaku sudah benar - benar terkumpul dengan kuatnya. Saat air mata kekecewaan ini sudah benar - benar kering tak berbekas, keraguan itu muncul dengan PDnya. Melemahkan semua otot - otot jiwaku yang menopang asa dan harapanku. Marah, benci, kecewa, dan tak berdaya mengerucut menjadi satu masalah yang bernama keraguan.
Saat mata ini benar benar lelah untuk memandang orang - orang yang mulai jaya dengan suaranya, saat telinga ini lelah dengan suara - suara sumbang yang tak lebih bagus dari suaraku, saat tangan ini sudah mulai kaku dengan bahasa tubuh seorang penyanyi, dan kaki ini nyaris sudah tak sanggup lagi merasakan aura panggung yang dahsyat, aku hanya bisa terpaku melihat diriku kini yang mulai tak sanggup lagi enghela nafas untuk kehidupan yang tak tentu benar atau salahnya.
Aku baru tersadar, bahwa terkadang setan memang lebih sering membuatku terjatuh dengan pujian - pujian gombal mengatasnamakan suaraku yang dahsyat atau membahana. Aku terlalu sombong dan percaya diri dengan apa yang diberikan Allah SWT dengan gratis untukku. Padahal aku hanya diberi, aku hanya dipinjami untuk digunaan seperlunya, bukan untuk ditunjukkan pada dunia agar dunia tahu bahwa aku memunyai kelebihan.... ....
Maafkan aku mimpiku, aku harus rela melepasmu perlahan - lahan, dan hanya bisa berdo'a jika ini yang terbaik maka Allah sendirilah yang akan mengabulkan mimpi - mimpimu itu, dengan cara - Nya, dengan kuasa - Nya, yang terindah dan terbaik .. .. .. . ..
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking