“Ketika
kau dengan seseorang yang lebih baik dariku, maka tak kan lara hatiku, karena
orang itu pasti bisa membimbingmu di jalan yang baik, jalan Takwa menuju Allah
SWT. Tapi jika orang itu belum lebih baik dariku, lidahku tak akan pernah
berhenti mengatakan ‘biarkan waktu mudamu menjadi lebih manfaat lagi’. Aku
hanya ingin mutiara itu diambil oleh seorang yang paham akan dijadikan seperti
apa mutiara itu; hanya hiasan saja, perhiasan yang indah dan menarik untuk
dilihat, atau tetap menjadi mutiara berharga yang selalu dijaga kelembutan,
keaslian, kesucian, dan keindahannya”
“Fan,
mau ngomong sesuatu boleh? Cepet bls yaa .. .. thank’s” nggak ada angin, hujan,
apalagi topan yang mampir di bumi tempatnya berpijak, tiba – tiba Sylvia,
seroang perempuan yang sering dipanggil Miss mengirimkan sms semi serius pada
Arfan.
“Ad
apa?” balas Arfan singkat.
“Hih,
ngomong bukan sms-an!”
“Iyaa..
.. gimana? Tak telpun?”
“Sok
kaya banget sih, ketemuan!”
“MasyaAllah,
nggak Miss”
“Jangan
macem2 deh mikirnya, ini penting!”
“Anti
bawa teman semahrom ya?”
“Nggak
bisa!”
“Astaghfirullah,
nggak mbak, ane takut Allah.”
“Cuma
ngobrol sebentar, karena ini penting.”
“Bermula
ngobrol penting, terus an ngasih masukan, terus anti jawab, ane ngasih respon
lagi, Miss disitulah setan bisa masuk diantara perbincangan kita nanti, belum
pandangan, Astaghfirullah, istighfar.”
“Nah,
ente kan yang mikirin sampe kek gitu? Padal ane nggak sampe segitu lho
mikirnya.”
“Yaudah,
anti telpun temen anti aja, yang cewek lho ya.”
“NGGAK!”
Arfan
tak membalas sms Sylvi, dia hanya yakin bahwa teman perempuannya itu bisa menyelesaikan
masalahnya. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam jam berlalu, sampai keesokan
harinya balasan sms Arfan tak kunjung mengisi inbox Sylvi lagi. Sebagai seorang
yang sedang belajar lebih dalam tentang fitrah dan kewajibannya, Sylvi memang
begitu sulit mengambil keputusan. Seakan – akan dia selalu membutuhkan orang
lain untuk memutuskan suatu hal, bahkan dalam urusan yang paling penting dalam
hidupnya. Usaha Sylvi untuk mengenal Tuhannya lebih jauh lagi memang harus
diwarnai tangis darah perjuangan, naik turun bahkan rapuhnya iman dan jiwanya
menjadi dekorasi hajatan dalam layar kehidupannya. Semalam penuh dia hanya
mengkhususkan diri dalam wangi sebuah kamar dengan hiasan cantik dan riasan
indah wajahnya. Kekhusyukannya dalam meminta petunjuk Allah SWT membuat bulir-
bulir air mata tak hanya membasahi pipinya, tapi sudah membanjiri bumi tempat
dia bersujud. Nampaknya, perempuan yang masih labil dalam pendiriannya ini
benar – benar sudah tak mampu lagi untuk berpikir selain atas izin dan ridho
dari Tuhannya.
“Fan,
bales smsku yaa J” :
sent by Arfan on Friday November 13 at 4 A.M.
“Yes
Miss, what’s upp?” : delivered by Sylvi at 5 A.M.
Tak
lama setelah Sylvi membaca sms itu, dia lalu menghubungi Arfan.
“Assalamu’alaikum,
ada apa Miss?” tanyanya seperti biasa.
“Nggak
papa, aku mau tanya Fan?”
“Iya,
kenapa mbak?”
“Mbak?”
“Kenapa
Miss?”
“Hehe,
tapi serius ni?”
“Ya
kalo serius nggak usah pake hehe kan?”
“Iya
deh maaf, dengerin dulu ya?”
“Miss?”
“Iyaa
iyaa .. Sebentar ...” Sylvi diam untuk beberapa detik, ”aku mau menikah Fan.”
“Subhanallah,
Barakallah ya.”
“Gitu
doank?”
“Harus
gimana?”
“ya....”
“Calonmu
sudah bekerja mbak?”
“Udah.”
“Dimana?”
“Di
KUA Fan.”
“Alhamdulillah,
udah tetap pekerjaannya berarti ya?”
“Alhamdulillah.”
“Paham
agama juga kan, InsyaAllah.”
“InsyaAllah.”
“Seorang
yang taat juga kan, InsyaAllah.”
“InsyaAllah.”
“Barakallah
yaa sekali lagi.”
“Tapi
Fan?”
“Tapi?”
“Tapi
keluarganya orang kaya Fan?”
Arfan
diam untuk beberapa detik memikirkan jawaban yang akan disampaikan padanya.
“Alhamdulillah
donk.”
“Fan,
ayahnya itu punya perusahaan gedhe di Bandung, ibunya punya butik yang katanya
bagus, kakanya dokter dan adiknya kuliah di Jeddah.”
“Lalu,
apa masalahnya?”
“Yah
Fan, masak 3 tahun kita bareng – bareng ente nggak tau latar belakang keluarga
ane sih?”
“Bareng
– bareng?”tanyanya heran.
“Temenan!”
“Oh..
Ya tauu, terus kenapa? Semua itu bisa menjadi media untuk dakwah mbak.”
“Aku
takut Fan.”
“Sudah
minta petunjuk sama Allah?”
“Sudah.”
“Jawabannya?”
“Aku
mimpi tersenyum.”
“Masih
bingung ya?”
“Iyaa,
dalam tiga kali mimpi aku hanya terlihat tersenyum.”
“Padahal
kan senyumanmmu kadang bukan senyum kebahagiaan ya mbak?”
“Eh
kok tau?”
“Lalu
lamarannya sudah diterima?
“Minggu
ini harus udah ada jawaban.”
“Mbak
mencintainya?”
“Kenapa
kamu tanya tentang cinta?”
“Lho
kenapa?”
“Kamu
pernah bilang, cinta itu tumbuh seiring berjalannya waktu, pernikahan tujuannya
Allah, dan benih – benih cinta itu akan ditebarkan oleh Allah, lalu tumbuh,
berkembang, dan mekar dengan indahnya sejalan dengan semakin kuatnya Iman
mereka pada Allah.”
Arfan
kembali diam dan mengingat – ingat kalimat itu.
“Kamu
juga bilang, cinta yang tujuannya bukan Allah, akan hilang seiring jauhnya
kebersamaan antara dirimu dan pasanganmu, dan cinta itu tak akan bersemi karena
setiap cinta itu akan disemikan, maka nafsu setan lebih dulu mematikan benih –
benihnya.”
“Oiya
mbak, calonmu itu lulusan mana?”
“Nggak
tau, Timur Tengah pokoknya. Gelarnya aja aku juga nggak tau, aneh pokoknya. Dia
hafal 20 jus, bisa menjelaskan hadits Arba’in, ngajar di Panti Asuhan Ar –
Rahman miliknya, konselor bisnis milik ibunya, dia juga penulis, kamu tau novel
“Some places for you” itu dia yang nulis.”
“Tafadhol.”
“Tafadhol
buat apa?”
“Untuk
menyempurnakan setengah imanmu mbak.”
Sylvi
yang tadinya masih menyiapkan jutaan pertanyaan tentang hal ini, tiba – tiba
amnesia dan tak paham mau berkata apa.
“Setelah
sepanjang itu yang kujelaskan, itu saran terakhirmu? Kamu ini nggak pernah
jatuh cinta ya?”
“Ada
kalimatku lagi yang masih mbak ingat?”
“Kenapa?”
“Semoga
mbak nggak bosan dengan kalimat ini yaa, ketika mbak niatkan semuanya karena
Allah dan tujuannya benar – benar hanya untuk Allah, maka Allah sendiri yang
akan mengatur kebaikan untuk mbak. Yang terakhir mbak, keikhlasan adalah kunci
keberhasilanmu dalam menjalani apa yang sudah, sedang, dan akan terjadi.
Keikhlasan itu dalam hati mbak, nggak ada yang bisa melihat, hanya mbak, dan
Allah. Assalamu’alaikum mbak, afwan, kita sudah berbicara lebih dari setengah
jam, nggak ahsan. Setiap orang pasti pernah jatuh cinta kok mbak, hanya saja
ada cinta yang terungkap dan ada cinta yang tak terungkap.”
Sylvi
hanya bisa menghela nafas dan menghapus setetes air mata yang sudah sepuluh
menit ditahan agar tidak membasahi pipinya.
To
be continued................